Anti Berbagi, Anti Solusi

Kadang saya bingung. Kalau orang lain sedang bermasalah, mereka biasa curhat sama saya.  Mereka meminta solusi dari saya. Tapi giliran saya ketimpa masalah, saya malah kehabisan akal gimana caranya menyelesaikan masalah itu?

Sontak kaget saya mendapat pertanyaan itu. Diam. Menyerngitkan dahi. Berpikir sejenak.

Aneh bukan.  Kadang mereka tak pandang situasi. Saya lagi patah hati malah dicurhatin habis keliling kota sama pacarnya. Wah..nasib…nasib

Belum sempat menjawab pertanyaan pertamanya, ia semakin menjadi. Cercaan itu memburu saya tuk menemukan jawaban yang tepat.

Jujur, saya ndak jauh beda sama kamu. Itu lah yang sering kali menjadi ironi dalam hidup kita. Terkadang orang selalu menuntut kita tuk mengerti mereka. Sementara mereka tak sedikit pun mau mangerti  keadaan kita. Itu lah realita

Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita?

Wah….modyar saya. Ini yang saya takuti. Saya saja masih slengekan begini, kok ditanya hal serius begituan. Bukankah sama saja itu ndak ngertiin saya. Kok jadi kayak korban berantai ya? Dia jadi korban temen2nya, saya jadi korbannya dia.
Huff………..
Tarik napas…
Bismillah,

Dher!, begitu sapaan akrabnya.
Terkadang kita harus berjiwa besar untuk menghadapi segala sesuatu. Saya pernah sampai depresi hanya karena masalah sepele yang tersembunyi jauh dilubuk hati. Padahal sebenarnya itu bisa diselesaikan dalam sekejap mata dan semuanya akan kembali seperti semula. Tapi..

Waktu itu kekukuhan dan ketertutupan saya menjadikan masalah  semakin ruyam. Karena hanya perang bathin di dalam diri saya justru memupuk keegoisan untuk diam. Padahal masalah tak kan selesai hanya dengan berdiam diri. Sementara masalah sudah bertunas seribu, saya masih bisu 1000 bahasa seolah tak mau menyelesaikannya.

So, bersyukurlah kalau ada orang yang curhat sama Dhery. Karena sebenarnya dia sedang mencari solusi akan semua masalah yang menggunung di kepalanya. Atau sekedar share agar bebannya terkurangi. Bukan kah suatu kepuasan bathin tersendiri kalau kita dapat merekahkan senyum orang yang mukanya tertekuk?

Iya, San. Ente bener. Kagak salah seikit pun. Tapi masalahnya…., belum selesai saya bicara, Dhery sudah menyerbu.

Tapi kadang itu bikin kesal diri sendiri karena mereka tak memandang situasi? Juga kadang malah bikin nek karena semua beban kita, kepenatan kita, masalah kita, juga kepedihan kita tak pernah bisa dimengerti mereka?, sebelum Dhery nyrobot lebih banyak, saya cemes saja.

Dhery hanya menunduk. Dan perlahan… raut wajahnya pucat pasi. Kesedihan dan berontak hatinya pun terlukis dalam tetesan air mata. Ah… Dhery…

Dher, tentu mereka tak kan mengerti kalau kita tak menceritakannya. Sekarang coba kita pikir sejenak. Kalau kita dicurhati oleh orang lain, itu tandanya mereka menganggap kita mampu membantu setidaknya hanya untuk menjadi pendengar setia. Atau malah mereka menganggap kita bisa mengerti diri mereka. Syukuri lah itu, Dher. Karena tak semua orang mampu melakukannya.

Dan kalau masalah mereka itu selesai karena solusi yang kita berikan, tentunya karena mereka mau bercerita, karena mereka curhat pada kita, bukan? Kalau pun kita tidak memberikan solusi 100 %, setidaknya dari cerita itu kita bisa bertukar pikiran dengan mereka bukan? Kalau mereka tak memberi tahu kita, mereka diam seperti kisah saya dulu, tentu masalah tak kan berujung. Betul kan?

Dhery hanya manggut-manggut.

Nah, kalau masalah mereka bisa selesai karena curhat ke kita, kenapa kita memendam masalah kita sendirian? kenapa kita tidak balik bercerita pada mereka tentang apa yang kita rasakan. Seberapa besar masalah di pundak kita? dan seberapa berat beban yang kita emban?

Ya, siapa tahu saja dia juga punya solusi jitu untuk masalah yang kita alami. Bisa saja dia justru sudah pernah mengalaminya. Kalau pun tidak, seminim-minimnya hati kita bisa plong karena kita mau ngomong. Ngomong dengan niatan mengurangi unek-unek di ulu hati dan mencari solusi.

Tapi kalau semua di pendam sendiri, ya iyalah kita bakal runtuh ketumpuk beban. Tapi ingat, curhat pun jangan asal ceplos ke si A atau pun si B. Lihat dulu latar belakangnya. Ya, buat jaga-jaga kalau dia akan membocorkan apa yang kita ceritakan. Bisa berabe deh tu urusan.
Bukan berarti saya nyaranin kamu pilih-pilih temen lho.

Tapi masalahnya…, rupanya Dhery belum puas.

Masalahnya kenapa diri kamu sendiri nggak mampu menyelesaikannya? tapi kok untuk masalah orang lain kamu bisa? begitu?

Ya, kamu bener

Dhery…dhery… Bagus lah kalau kamu berpikir mandiri. Mungkin kamu bertahan mencari solusi dari diri sendiri agar tak merepotkan .orang lain. Atau tak ingin popularitasnya jatuh karena anggapan si pemberi nasihat malah minta nasihat. He..he….

Itu wajar. Guru IPS saya pernah bilang kaalu seseorang cenderung akan mempertahankan bisa _bisa dikatakan_ cap yang sudah melekat pada dirinya dengan cara apa pun. Mungkin termasuk kita. Tapi kalau itu malah menyiksa diri ya..buat apa? Orang kita memang manusia sosial kok. Sudah seyogyanya kita saling berbagi. Dan tentu tak ada salahnya kan kalau sesekali kita menerima?

Syukur sih bisa menyelesaikan sendiri. Tentu dengan pikiran yang jernih dan pemikiran yang matang. Untuk bisa melakukannya, tntu hati kita harus enjoy dulu. Dan hati kita bisa enjoy kalau beban itu sudah hilang, atau paling tidak disembunyikan. Dan beban itu bisa hilang kalau kita rela melepasnya pergi.

Bagaimana aku bisa mengusir beban itu?, sedikit mengangkat muka, seolah ada sedikit harapan yang terpancar.

Tentu dengan berbagi. Pasti kita keberatan kalau 10 kilo dipikul sendirian. Tapi kalau dibagikan ke sepuluh orang, bukan kah jadi ringan?