Kisah Lucu (bukan) Film The Social Network

damaiSetelah meraih Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik, “The Social Network” kembali meraih penghargaan untuk Best Original Score. Sebelumnya “The Social Network” memenangkan penghargaan Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik. Kemenangan itu merupakan penghargaan pertamanya malam ini waktu USA.

Sebenarnya, beberapa bulan sebelum Oscar digelar, The Social Network sudah menikmati kemenangan di sebuah kompleks yang selalu bersu’udzon terhadapnya. Masih jelas terekam dalam memori, betapa mengguncangnya larangan keras berkelana dengan salah satu media jejaring sosial di dunia daring yang dikambinghitamkan sebagai perusak generasi penerus bangsa. Ya, The Social Network itu tak lain tak bukan adalah Facebook. Demikian sebutan akrabnya di telinga.

Bahkan, sampai beberapa warnet yang beroperasi di pondok terbesar se-Jateng ini gulung tikar. Adapun izin pengoperasian kembali bisa keluar dengan segepok syarat yang akhirnya memaksa para petugas warnet mengeluarkan ultimatum dan sederet peraturan bagi parza pengguna warnet.

Tidak hanya itu, berbagai bentuk pemberontakan secara halus pun dilontarkan oleh para santri yang merasa hak aksesnya di dunia maya telah dipangkas karena tragedi itu. Memang tidak sampai terjadi demo, namun keluarnya santri dari area pondok hanya untuk bisa berinternetan di warnet luar sudah menjadi cukup bukti bahwa sebagian dari mereka tidak mengindahkan larangan itu. Sekalipun mereka tahu bahwa puncak dari semua pengendali peraturan itu adalah Abah Kyai sendiri.

Namun masihkah semua itu bertahan hingga detik ini? Tidak. Ternyata tragedi itu telah berhembus jauh terbawa angin entah ke arah mana. Sekarang semua kondisi berubah 180 derajat. Bahkan seolah menjadi hal yang basi untuk diperbincangkan.

Lihat saja, Facaebook kini bukan hanya telah membumi, namun juga menjamur di Al Hikmah. Bahkan, Malhikdua dan MMA yang awalnya benar-benar tutup pintu untuk akses internet setelah ultimatum itu keluar, kini sudah kembali tersenyum lebar karena betapa larisnya warnet mereka. Tak ubahnya dengan perpustakaan digital Al Hikmah 2 yang beberapa waktu lalu sempat frustasi menghadapi pro-kontra Facebook.

Kini tak terdengar lagi kata Facebook dilarang di pesantren, menjadi topik utama dalam perdebatan Class Meeting yang dilombakan. Tak ada lagi yang menyebut Facebook itu haram dan segala macam unkapan miring lainnya.

Padahal, kalau kita bandingkan maraknya Facebook sekarang dengan kondisi setahun lalu, waktu Facebook baru booming di Al Hikmah, jelas sangat jauh berbeda. Tanpa melakukan survei pun mata sudah bisa melihat bahwa FB saai ini lebih parah dari tahun lalu, dimana berbagai paradigma unrasional tentanya terlontar.

Cukup mudah untuk membuktikannya.Silahkan tanyakan pada semua santri atau setidaknya lima puluh santri sebagai sampel. Pasti empat puluh diantaranya sudah memiliki account FB. Bahkan tak pandang bulu. Tak peduli level apa sekolahnya.

Tiga warnet yang beroperasi di Al Hikmah pun selalu padat pengunjung. Bahkan tak heran melihat antrian panjang di luar ruangan. Tak jarang pula mereka berlarian menuju warnet setelah kegiatan santri selesai. Sebegitunya-kah? Yadiakui atau tidak  memang demikian adanya.

Tapi, satu hal yang saya herankan, kenapa semuanya diam melihat pemandangan ini? Tidak ada lagi larangan, tidak ada lagi peraturan beranak mengenai hal ini, padahal mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Terkadang saya sedikit geli bila hendak menjawab pertanyaan ini. Sempat terlintas dalam pikiran saya, Bagaimana mau dilarang kalau Gus-gusnya saja sekarang Facebook-an? atau satu jawaban yang lebih lucu, Bagaimana kedua lab sekolah dan perpus digital itu beroperasi kalau warnet dan FB dilarang?.

Hmmm.(menghela napas panjang, mengakhiri kenangan bersamaan tuntasnya film besutan David Fincher).

——-

Benda, 3 Maret 2011

*akrab dipanggil Damai, Blogger Malhikdua, kelas XII IPS, membuka diskusi ringan soal IT Sekolah lewat blognya di http://damai.wardani.info.