Lamunan Tukang Lembur

Pak, sampai Jeruk Legi berapa?, tanyanya serius dengan wajah memelas.
Delapan ribu, Mbak, muka cuek sambil menyodorkan tangan, berharap langsung dibayar oleh gadis itu.
Kiri, Pak. Saya turun disini saja. Ni uangnya, Pak. Makasih, tak perlu menunggu kembalian karena ia membayar dengan uang pas. Langsung turun dari Bus Kurnia. Berlalu.

zzzzzzzzzzzzzzzzzz…………………………

Saya heran mendengar percakapan itu. Belum sempat menyelidiki apa yang sedang ia lakukan di alam maya, obrolan itu mulai lagi.

Pak, sampai Sidereja, ya?, nada bicaranya sedikit diangkat.
Ya, neng. Silahkan naik. Yuk………tarik, Mas!, si kernet nampak bersemangat.

zzzzzzzzzzzzzzzzzz…………………

Hey! Lagi ngapain, Kamu?, Aku menimbrung pembicaraan mereka.
Hmm…enggak, ni lagi dalam perjalanan pulang, balasnya.
Kok sampai ngigo sih? mang kamu mau pulang kemana? ini kan masih jam 1 malem?, selidikku.
Masa sih aku ngigo? ya pulang  ke rumah lah, dia memang suka ngeyel.
Oh.. ya sudah lah. Teruskan mimpimu

Saya ngakak hati menyela igonya yang nglantur entah kemana. Ternyata dunia mimpinya sedang dalam perjalanan pulang. Benar juga, ya. Orang ngigo itu nyambung kalau ditanggepin, kata salah seorang teman. Ah…ternyata saya tak sendirian. Suara igonya cukup menemani lemburan tugas saya dini hari ini.

Pulang. Satu kata yang sangat sulit tuk saya wujudkan. Ya, sangat sulit. Bahkan seolah menyayat hati kalau sampai terdengar di telinga. Kenapa? Kenapa kata itu bak mutiara di dasar lautan yang penuh perjuangan tuk mendapatkannya?

Karena Pulang untuk kalangan santri, khusunya PP. Al Hikmah, adalah kesempatan langka yang hanya setahun sekali terjadi. Yakni 20 hari pra dan pasca Lebaran. Bukan hanya karena kelangkaannya, namun juga sederet persyaratan yang wajib dipenuhi setiap santri bila ingin pulang, menemui sanak keluarga. Setoran afsahan semua kitab pasaran harus penuh, hafalan Juz Amma, hafalan wirid+doa sehabis solat fardhu, hafalan surat-surat tertentu (QS. Al Waqiah, Al Mulk, Yasin), Tahlil+doa, sampai Hidzib syakron yang wajib dibaca setelah mengaji sentral. Bahkan, mulai tahun ini, Abah Masruri mewajibkan santrinya untuk membuat karya tulis  masuk daftar persyaratan pulang. Sebagai realisasi hasil pelatihan jurnalistik, katanya.

Tapi bagi saya, satu hal yang lebih berat dari semua itu. Hal yang, ah…., rasanya belum siap mengahdapinya. Belum cukup benteng iman ini tuk menatap dunia luar. Apalagi foto ciuman (maaf) di FB salah seorang teman SMP dulu yang tak sengaja saya lihat itu, bikin miris hati. Semakin membuka mata saya begitu bebasnya pergaulan remaja masa kini. Maklumlah, selama nyantri, mungkin jari ini cukup untuk menghitung berapa kali saya melihat langsung  dunia luar, dunia yang kini terasa asing, sangat asing bagi saya. Dan  sekali lagi, pertanyaan yang sering muncul di benak saya, pertanyaan yang hingga kini belum mampu terjawab, juga sesungguhnya saya pun takut mendengarnya, Dunia luar, akan di warnai atau mewarnai kah saya?.

Kini baru terasa, rupanya ini salah satu tujuan orang tua memondokan saya. Beruntung  memang. Meski terkadang merasa  terkekang dengan aneka peraturan, tapi setidaknya masa remaja saya terselamatkan. Tidak hanya bekal dunia yang saya dapat, bekal akhirat pun Insya Allah belum cukup, :-). Wah…sepertinya, perlu berbenah diri sebelum pulang. Setidaknya pegang sangu untuk BSK (Bhakti Sosial Keagamaan) juga menjaga stabilitas iman selama di rumah.

Belum tidur, Mae? atau dah bangun? dapat kolam nomor berapa?, teguran Rizka dalam setengah mata terbuka, membuyarkan lamunan saya. Kolam, istilah untuk menyebut kamar mandi dikalangan santri.
Ah, Kamu. Mana bisa sih Damae mandi jam 3 pagi gini?, tubuh saya pasti menggigil kalau tersentuh air sebelum jam 5 pagi.
Berarti Kamu belum tidur?Lembur lagi?