Ulat dibalik Pizza Hot

E.e.., wajahnya bingung ketika menangkap kedua bola mata saya tiba-tiba.
Gimana, Pak, hasilnya?, sergah saya tak sabar.
E.. Punya Kamu kok hiasannya sedikit sekali, ya?
Maksud, Bapak?

Ya, tulisan kamu memang ya, saya akui bagus. Tapi kalau dilihat dari link-linknya, kemudian hiasan-hiasan seperti jam, kaligrafi, dan lain sebagainya itu kok sedikit sekali. Padahal itu kan yang lebih di utamakan. Sebagaimana yang sudah Kamu baca ketentuannya, disitu ada foto, animasi, desain grafis, dan kawan-kawannya, ya, kan? Jadi mohon maaf, dengan sangat terpaksa ya, sang juri menjelaskan.
Tapi, Pak, disitu kan tidak tertulis sistem penilian fasilitas yang lebih di utamakan. Dan, saya bukan tipe gadis ngalahan.
Iya, kan ini membuat blog dari nol. Jadi mau tidak mau unsur-unsur itu justru dipentingkan. Ya, jadi mohon maaf sekali. Ya, nggak apa-ap, ya? mungkin lain kali bisa diperbaiki lagi, Bapak hampir 40 tahunan itu pun berlalu.

Aahgg.SYITTT!!!
Mendung diwajah kian basah. Impian itu telah hancur. Lebur bersama sakitnya hati ini. Kenapa? Kenapa saya tiba-tiba diam seribu bahasa tak berani membela. Kenapa saya tak mengucapkan sepatah kata pun tuk menepis kepalsuan itu? Ya, itu palsu. Munafik. Itu hanya trik. Trik kemenangan yang amat licik.

Selamat, ya. Selamat berjuang ke Provinsi. Bawalah nama baik Brebes. Dan jadilah Pemenang Sejati

Huhhfff
Kenapa? Kenapa justru itu yang keluar dari mulut ini? Sebuah ucapan yang sangat menyakitkan. Ucapan yang menusuk hati. Karena kemenangan itu Kemangan itu Adalah milikku.

Ya, Akulah Pemenangnya! Akulah Sang Juara. Akulah yang pantas mendapat ucapan itu. Karena kemenangan yang ia raih hanya sebuah rekayasa. Hanya kepalsuan belaka. Hanya titipan demi nama baik sebuah lembaga. Inikah kemengan yang hakiki?

Hhhhh..Hiks..hiks..
Sudahlah, Mae! Anggap ini sebuah permainan. Karena mereka pun hanya bermain-main dalam ajang ini. Apa pun yang terjadi, Kita semua tahu kok capability-nya Kamu kayak apa. Enjoy aja. Syukuri karena Damae telah mendapat pengalaman yang amat berharga. Ok, belai lembut bu guru bak setetes embun yang menyejukkan hati.
Tapi, bu, andai tadi saya berani menampik semua yang dikatakan juri, pasti mata mereka akan terbuka, bu, kalau. hiks..hiksss, saya tak kuasa menahan air mata.
Iya, ibu paham. Tapi
Bu, saya bisa membaca mata juri itu kalau juri itu bohong! Juri itu pasti sudah dibayar agar sekolah mereka yang menang. Harusnya bukan saya yang disalahkan, tapi mereka. Apa juri itu tidak melihat bahwa desain blog saya justru desain grafis murni, sementara punya mereka hanya memakai blogspot dan itu pun templatenya tidak dirubah. Juri itu bilang punya saya tidak ada link-linknya, padahal kan lebih dari sepuluh sudah terpasang disitu termasuk wordpress yang juri itu bilang. Punya saya dikata tidak ada animasinya, padahal hiasan animasi yang mereka maksud hanya permainan widget yang copas dari blog lain, sementara punya saya bikin sendiri. Dan itu tidak dijelaskan dalam ketentuan. Bu, saya yakin mereka menyembunyikan informasi itu agar saya kalah, bu.
Sssssssssttttt.tenang, Damai. Tenang. Bukan cuma Kamu yang mengalaminya, tapi kita semua. Ya, hampir saja tadi ibu terjerumus dalam politik kemenangan mereka. Tapi Ibu sudah tahu bahwa ini hanya permainan
Apa, bu?
Iya, informasi yang kita terima juga salah semua. Lihatlah, mereka juga kecewa sama seperti kamu
Bulsyyyyitttt! Saya tidak butuh kemengan itu! Saya butuh keadilan, bu! Persaingan yang sehat! Bukan kepalsuan seperti ini. Mereka PECUNDANG, bu! Pe..cun..dang!, Hiks..hiks..

Rangkulan bu guru terlepas seketika, saya berlari menjauh dari wajah-wajah kecewa itu. Berlaridan terus mengejar matahari. Silau sinarnya begitu terasa. Memaksa mata ini terpejam agar terhindar dari hantamannya. Tapi panasnya mentari tak lebih dari panasnya keganasan penipuan mereka. Ya, PENIPU!!

DuhaiSang Juara ***Censor***  !
Puaskah kalian dengan kemenangan itu?
Makanlah itu! Makanlah! Sepuasnya!
Saya tidak butuh kemenangan dalam kelicikan!
Saya butuh keadilan!
Saya tidak rela Kota Brebes di harumkan oleh tangan-tangan kotor seperti kalian
Saya tidak sudi menjadi saksi sejarah generasi penerus bangsa yang bobrok mentalnya seperti kalian
Saya pun tak kan membiarkan nama Islam tercoreng karena ulah kalian
Karena kemenangan itu
Kemanangan yang kalian banggakan
Kemenangan yang kalian impikan
Dan kemenangan yang amat kalian inginkan
Hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus kain sutra
Kemenangan yang menipu bangsa
Kemenangan yang menumbuhkan sakit hati
Dibalik senyum getir lawan kalian yang berjiwa besar!
Nikmatilah ulat yang berwujud pizza hot
Habiskanlah
Sampai perut kalian buncit
Menimbun kenikmatan itu!

Huhfff.Entah sampai mana kaki ini berlaridan entah sampai kapan tangisan ini berhenti
Allah Maha Melihat Segalanya. Bukankah kehidupan ini memang sudah disketsa dengan prinsip keseimbangan? Ada hujan, ada panas. Ada mendung juga ada cerah. Dan tentu ada menang juga ada kalah. Tapi kata Rosul, Pemenang sejati bukan lah orang yang selalu memegang piala sang juara, melainkan orang yang mampu mengekang hawa nafsu. []