Blog Sebagai Media Pengantar Menuju Tradisi Pembelajaran Online

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sistem Pendidikan Pesantren di Indonesia membutuhkan revolusi, bukan hanya revolusi dalam pendidikan normal melainkan juga revolusi dalam bidang globalisasi. Di zaman Globalisasi ini, tak ayal semua siswa maupun siswi SD sudah bisa bermain internet yang notabene tak begitu banyak berdampak positif. Lain di dunia luar, lain pula di Pesantren. Jika di dunia luar Pesantren, siswa SD sudah bisa menjelajah internet tanpa bantuan para orang tua, lain halnya dengan santri di kalangan pesantren. Jangankan menjelajah internet, mendapat pembelajaran mengenai internetpun jarang sekali. Padahal jika menilik dunia luar yang sudah serba milenium ini, banyak sekali ketertinggalan yang terlihat. …

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sistem Pendidikan Pesantren di Indonesia membutuhkan revolusi, bukan hanya revolusi dalam pendidikan normal melainkan juga revolusi dalam bidang globalisasi. Di zaman Globalisasi ini, tak ayal semua siswa maupun siswi SD sudah bisa bermain internet yang notabene tak begitu banyak berdampak positif. Lain di dunia luar, lain pula di Pesantren. Jika di dunia luar Pesantren, siswa SD sudah bisa menjelajah internet tanpa bantuan para orang tua, lain halnya dengan santri di kalangan pesantren. Jangankan menjelajah internet, mendapat pembelajaran mengenai internetpun jarang sekali. Padahal jika menilik dunia luar yang sudah serba milenium ini, banyak sekali ketertinggalan yang terlihat. Seperti halnya pembelajaran melalui internet yang akrab disebut E-Learning.
Dunia pendidikan pesantren memang masih lemah untuk bisa mengakses Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT). Persoalannya dunia pendidikan pesantren masih lemah untuk bisa menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Belum lagi kualitas sumber daya manusia (SDM) yang belum bisa menopang pemanfaatan Teknologi abad 21 ini. Tidak sedikit santri yang belum bisa mengakses teknologi. Jangankan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) semacam internet masih ada santri yang sampai saat ini belum bisa mengoperasikan komputer.
Sebuah konsep ditawarkan untuk meningkatan mutu pendidikan dengan mengadopsi Teknologi Informasi & Komunikasi (ICT) dalam proses-proses pembelajaran di sekolah, yakni dengan E-Learning. E-Learning telah menjadi suatu strategi dan solusi bagi institusi-institusi sukses di dunia dalam rangka me-manage dan meng-update pengetahuan dan pembelajaran bagi para anggotanya, sehingga tidak kalah dalam persaingan yang semakin kompetitif di era globalisasi ini. Langkah ini perlu diambil karena teknologi yang semakin berkembang menyediakan kesempatan yang sangat besar untuk mengembangkan manajemen pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah. Teknologi Informasi & Komunikasi (ICT) memiliki potensi yang sangat besar untuk mentransformasikan seluruh aspek di dalam pendidikan di sekolah dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Namun, kebanyakan pesanten belum bisa menerapkan E-Learning. Kita akan mengulas melalui pengamatan yang akan di susun menjadi KTI ini.

1.2 Rumusan Masalah
Setelah mengetahui masalah yang terjadi di dunia pendidikan pesantren. Dan kita dapat mengetahui betapa pentingnya E-Learning dalam lingkungan Pesantren. Kami tertarik untuk menyelidiki sebenarnya apa yang mendasari permasalahan tersebut dan membahas sistem Pembelajaran IT dalam dunia Pesantren yang masih sangat minim dan kurang pemanfaatannya dalam bidang teknologi.

1.3 Batasan Masalah
1. Pembahasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berfokus pada E- Learning dan Blog.
2. Penelitian di lakukan pada sekolah tingkat SLTP dan SLTA yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Hikmah 02 Benda.

1.4 Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi pemanfaatan Teknologi Informasi & Komunikasi (ICT) dalam dunia pendidikan pesantren.
2. Mengidentifikasi penerapan blog dalam pemanfaatan Teknologi Informasi & Komunikasi (ICT) untuk mendukung pendidikan di pesantren.

1.5 Manfaat
1. Agar Pembaca dapat memahami sisem pendidikan di dunia pesantren mengenai ICT.
2. Untuk para guru yang ingin menjadikan blog sebagai media pembelajaran dan edukasi secara on-line.
3. Memotivasi para guru untuk membuat blog sendiri di mana materi isinya disesuaikan dengan Kurikulum dan Standard kompetensi yang di harapkan.
4. Dengan menjadikan blog sebagai media pembelajaran online diharapkan siswa/siswi dapat belajar mandiri di luar jam sekolah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Apa itu E-Learning?
Sistem pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran (Inggris: Electronic learning disingkat E-learning) adalah cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan. (Anonim 1, 2010).
2.1.1 Sejarah dan Perkembangan E-learning
E-pembelajaran atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:(1) Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.
(2) Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal. (3) Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb. (4) Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil (Satrio, 2010).
2.1.2 Kelebihan E-Learning
Apa yang menjadi kelebihan pembelajaran jarak jauh berbasis E-learning. Keunggulan pembelajaran melalui E-Learning, yaitu menciptakan peluang interaktivitas pembelajaran menjadi lebih meningkat. Tidak ada batasan waktu dan tempat dan pembelajar menjadi lebih bertanggung jawab akan kesuksesannya. Dulu mungkin kita berpikir bahwa kegiatan belajar mengajar harus dalam ruang kelas, dimana guru atau dosen mengajar di depan kelas sambil sesekali menulis materi pelajaran di papan tulis. Tetapi perbelajaran atau pendidikan jarak jauh sudah dikenal beberapa puluh tahun yang lalu. Walaupun dengan mekanisme yang boleh dibilang cukup sederhana untuk ukuran sekarang, tetapi saat itu metode tersebut sudah dapat membantu orang-orang yang butuh belajar atau mengenyam pendidikan tanpa terhalang kendala geografis. Maka seiring, ditemukannya teknologi Internet, hampir segalanya menjadi mungkin. Kini kita dapat belajar tak hanya anywhere saja, tetapi juga sekaligus anytime dengan fasilitas sistem e-Learning yang ada. (Harry, 2007).
2.1.3 Tujuan, Manfaat, dan Karakteristik sistem E-learning
Tujuan, manfaat, dan karakteristik sistem e-learning sebagai media pembelajaran, sebagai berikut (Harry, 2007):
1). Tujuan sistem pembelajaran melalui e-learning, yaitu :
a. Meningkatkan kualitas pembelajaran pembelajar.
b. Mengubah budaya mengajar pengajar
c. Mengubah belajar pembelajar yang pasif kepada budaya belajar aktif, sehingga terbentuk independent learning.
d. Memperluas basis dan kesempatan belajar untuk masyarakat.
e. Mengembangkan dan memperluas produk dan layanan baru.
2). Manfaat
Manfaat dan dampak yang diperoleh dari pembelajaran melalui E-Learning,adalah :
a. Perubahan budaya belajar dan peningkatan mutu pembelajaran pembelajar dan pengajar.
b. Perubahan pertemuan pembelajaran yang tidak terfokus pada pertemuan (tatap muka) di kelas dan pertemuan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu melalui fasilitas E-learning.
c. Tersedianya materi pembelajaran di media elektronik melalui website E-learning yang mudah diakses dan dikembangkan oleh pembelajar dan mungkin juga masyarakat.
d. Pengkayaan materi pembelajaran sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
e. Menciptakan competitive positioning dan meningkatkan brand image
f. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepuasan pembelajar serta kualitas pelayanan.
g. Mengurangi biaya operasi dan meningkatkan pendapatan
h. Interaktivitas pembelajar meningkat, karena tidak ada batasan waktu untuk belajar.
i. Pembelajar menjadi lebih bertanggung jawab akan kesuksesannya [Learner oriented].
3). Karakteristik Sistem e-learning
Dari beberapa sistem e-Learning yang dikembangkan, secara umum kita dapat membagi berdasarkan sifat interaktivitas e-learning, menjadi 2 (dua) karakteristik, yaitu :
1) Sistem yang bersifat statis.
Untuk aplikasi sistem yang bersifat statis ini, yaitu :
a. pengguna hanya dapat men-download bahan belajar yang diperlukan,
b. seorang administrator, hanya dapat meng-upload file-file materi,
c. pada sistem ini, suasana belajar yang sebenarnya tak dapat dihadirkan, misalnya jalinan komunikasi,
d. sistem ini cukup berguna bagi mahasiswa/siswa yang mampu belajar otodidak dari sumber-sumber bacaan yang disediakan dalam sistem ini, baik yang berformat HTML, PowerPoint, PDF, maupun yang berupa video,
e. sistem ini berfungsi untuk menunjang aktivitas pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka di kelas.
2) Sistem yang bersifat dinamis
Untuk aplikasi sistem yang bersifat statis ini, yaitu :
a. fasilitas yang tersedia pada sistem ini lebih bervariasi, seperti forum diskusi, chat, e-mail, alat bantu evaluasi pembelajaran, manajemen pengguna, serta manajemen materi elektronis,
b. siswa mampu belajar dalam lingkungan belajar yang tidak jauh berbeda dengan suasana di kelas perkuliahan,
c. sistem E-learning, digunakan untuk membantu proses transformasi pengetahuan dengan paradigma student-centered,
d. guru aktif memberikan materi, meminta mahasiswa bertanya mengenai sesuatu yang belum dipahami dan mahasiswa dilatih belajar secara kritis dan aktif.
e. sistem E-Learning, dapat dikembangkan dengan menggunakan pendekatan metode belajar kolaboratif (collaborative learning) maupun belajar dari proses memecahkan problem yang disodorkan (problem-based learning).

2.1.4 Konsep E-Learning
E-Learning [Electronic Learning], proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi. Menurut Michael Purwadi (2003) perangkat elektronik yang dimaksud dalam hal ini adalah perangkat elektronik yang ada kaitannya dengan teknologi informasi dan komunikasi [TIK] dan multimedia berupa CD ROM, Video Tape, Televisi, dan Radio. Maka, E-learning adalah proses pembelajaran yang difasilitasi dan didukung melalui pemanfaatan teknologi informasi dan internet. E-Learning tidak lagi hanya terbatas pada proses pembelajaran yang sifatnya statis, stand alone, dan satu arah, tetapi telah meluas menjadi proses pembelajaran yang sifatnya dinamis, collaborative, dan multimedia. Sedangkan secara khusus E-learning mempunyai ciri-ciri, antara lain (Clark, R.C. dan Mayer, R E., 2003):
1. memiliki content yang relevan dengan tujuan pembelajaran,
2. menggunakan metode instruksional, misalnya penyajian contoh dan latihan,
3. menggunakan elemen-elemen seperti kata-kata dan gambar-gambar untuk menyampaikan materi pembelajaran, dan
4. membangun pemahaman dan kemampuan yang terkait dengan tujuan pembelajaran baik secara perseorangan atau kelompok
2.2 Apa itu Blog?
Blog merupakan singkatan dari web log adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut (Anonim 2, 2011).
Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger.com, yang dimiliki oleh PyraLab sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google.Com pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat sumber terbuka yang diperuntukkan kepada perkembangan para penulis blog tersebut (Anonim 2, 2011).
Blog mempunyai fungsi yang sangat beragam,dari sebuah catatan harian, media publikasi dalam sebuah kampanye politik, sampai dengan program-program media dan perusahaan-perusahaan. Sebagian blog dipelihara oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa penulis, . Banyak juga weblog yang memiliki fasilitas interaksi dengan para pengunjungnya, seperti menggunakan buku tamu dan kolom komentar yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan komentar atas isi dari tulisan yang dipublikasikan, namun demikian ada juga yang yang sebaliknya atau yang bersifat non-interaktif (Satrio, 2010).
Situs-situs web yang saling berkaitan berkat weblog, atau secara total merupakan kumpulan weblog sering disebut sebagai blogosphere. Bilamana sebuah kumpulan gelombang aktivitas, informasi dan opini yang sangat besar berulang kali muncul untuk beberapa subyek atau sangat kontroversial terjadi dalam blogosphere, maka hal itu sering disebut sebagai blogstorm atau badai blog (Anonim 2, 2011).
2.2.1 Jenis Jenis Blog (Hujair, 2011).
1. Blog politik: Tentang berita, politik, aktivis, dan semua persoalan berbasis blog (Seperti kampanye).
2. Blog pribadi: Disebut juga buku harian online yang berisikan tentang pengalaman keseharian seseorang, keluhan, puisi atau syair, gagasan jahat, dan perbincangan teman.
3. Blog bertopik: Blog yang membahas tentang sesuatu, dan fokus pada bahasan tertentu.
4. Blog kesehatan: Lebih spesifik tentang kesehatan. Blog kesehatan kebanyakan berisi tentang keluhan pasien, berita kesehatan terbaru, keterangan-ketarangan tentang kesehatan, dll.
5. Blog sastra: Lebih dikenal sebagai litblog (Literary blog).
6. Blog perjalanan: Fokus pada bahasan cerita perjalanan yang menceritakan keterangan-keterangan tentang perjalanan/traveling.
7. Blog riset: Persoalan tentang akademis seperti berita riset terbaru.
8. Blog hukum: Persoalan tentang hukum atau urusan hukum; disebut juga dengan blawgs (Blog Laws).
9. Blog media: Berfokus pada bahasan kebohongan atau ketidakkonsistensi media massa; biasanya hanya untuk koran atau jaringan televisi.
10. Blog agama: Membahas tentang agama.
11. Blog pendidikan: Biasanya ditulis oleh pelajar atau guru.
12. Blog kebersamaan: Topik lebih spesifik ditulis oleh kelompok tertentu.
13. Blog petunjuk (directory): Berisi ratusan link halaman website.
14. Blog bisnis: Digunakan oleh pegawai atau wirausahawan untuk kegiatan promosi bisnis mereka.
15. Blog pengejawantahan: Fokus tentang objek diluar manusia; seperti anjing.
16. Blog pengganggu (spam): Digunakan untuk promosi bisnis affiliate; juga dikenal sebagai splogs (Spam Blog).
2.2.2 Tujuan Blog (Hujair, 2011).
1. Menyampaikan informasi yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun bagi orang lain.
2. Memberikan keuntungan bagi diri sendiri maupun orang lain.
3. Menyalurkan hobby dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif.
4. Berkarya atau aktualisasi diri.
5. Saling bertukar pengetahuan dengan pembaca, blogger menulis, pengunjung memberikan tanggapan atau komentar.
6. Berbagi pengalaman .
7. berbagi software berguna, seperti foto, film/video, dokumen, dsb.
8. banyak lagi, sesuai dengan jenis / topik yang diangkat.
Karena blog bermacam-macam jenisnya, maka tujuan blog juga dipengaruhi oleh jenis blog tersebut.
misal :
¢ Tujuan Blog Pribadi : bertujuan untuk memberikan informasi yang update tentang diri pemilik blog. Seputar pengalaman, hal-hal yang berkesan, catatan harian, catatan perjalanan pribadi, dan sebagainya
¢ Tujuan Blog Kesehatan : bertujuan untuk memberikan informasi kesehatan terkini
¢ Tujuan Blog bisnis : bertujuan untuk memberikan informasi terkini seputar bisnis sebuah perusahaan.
2.2.3 Ikatlah Ilmu Dengan Pengikatnya
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya . Begitulah yang diucapkan oleh sahabat Rasulullah, Ali bin Abu Thalib ra.. Otak dapat mengingat-ingat segala yang didengar, dilihat, dirasa dan segala yang tertangkap oleh panca indra. Sehingga setelah beberapa saat kemudian, terbukti. Kita dapat menjawab pertanyaan, misalnya (Anonim 3, 2003).
Tetapi, manusia dapat lupa, terlupakan dan perlu diingatkan kembali.Semua pasti pernah membaca tulisan sendiri yang dibuat. Jika diperhatikan dengan seksama, tidak semua yang terdapat di dalam tulisan itu masih menempel kuat di benak (Anonim 3, 2003).
Pada intinya, dengan menulis semua informasi akan terekam dalam bentuk tulisan. Bagaimana jika tidak ditulis, mungkin sesuatu yang pernah didengar sudah terlupakan. Sesuatu yang pernah diketahui, seolah tidak pernah mengetahuinya (Anonim 3, 2003).
2.2.4 Dakwah bit-Tadwin
Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif (Anonim 3, 2003).
Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwin ini Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada (Anonim 3, 2003).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian
Objek penelitian adalah Sekolah tingkat SLTP dan SLTA yang berada di bawah naungan PP. Alhikmah 2 Benda, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah.

3.2 Studi Pustaka
Yaitu dengan mencari referensi melalui buku, internet, jurnal, dan media pembelajaran lain yang berhubungan dengan tema penelitian, yaitu mencakup pengartian dan contoh contoh mengenai blog dan E-Learning.

3.3 Perumusan Masalah
Yaitu dengan menganalisa masalah, khususnya tentang pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah tingkat SLTP dan SLTA Pesantren Alhikmah 2 yang dijadikan objek penelitian.

3.4 Penetapan Tujuan
Penetapan tujuan tak lepas dari analisa masalah, bersinergi dengan manfaat yang hendak diberikan kepada pembaca hasil penelitian dalam karya tulis ini.

3.5 Pengumpulan Data
3.5 1 Metode Pengumpulan Data
a. Studi Pustaka
Metode pengumpulan data dengan cara mencari data dan informasi pada literatur yang terkait dengan penelitian, seperti buku-buku, hasil penelitian, jurnal dan via internet.

b. Metode Observasi
Metode pengumpulan data dan informasi melalui pengamatan dan pencatatan dengan cara sistematik, aktivitas, dan kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan dan pemanfaatan teknologi dan komunikasi pada objek penelitian.
c. Metode Wawancara
Metode pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan tema penelitian, mencakup pengelola Warnet, Pengasuh pesantren, Guru dan santri. Wawancara bertujuan sebagai pelengkap data dan penguat atau penjelas data observasi.
3.5.2 Data Yang Dibutuhkan
1. Sarana dan prasarana teknologi yang digunakan sekolah.
2. Penyebab belum berjalannya sistem E-Learning
3. kendala guru dan siswa dalam penerapa E-Learning
4. User pengguna blog malhikdua.

3.6 Pengolahan Data
Semua data dan hasil studi pustaka yang telah dikumpulkan, diolah sedemikain rupa sehingga terintegrasi dalam satu karya ilmiah yang berjudul Blog Sebagai Media Pengantar Menuju Tradisi Pebelajaran Online.

3.7 Analisa hasil
Hasil dari pengolahan data kemudian dianalisa untuk kemudian ditarik suatu kesimpulan yang berhubungan dengan tema penelitian ini.
3.8 Penarikan kesimpulan
Hasil analisa data kemudian ditarik kesimpulan sebagai hasil akhir penelitian ini.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Sejarah dan Sistem Pembelajaran di Pondok Pesantren Al Hikmah 02
Pondok pesantren Al Hikmah 02 berada tepat di desa Benda, kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Memiliki banyak instansi, seperti SMP, MTS, SMA, MA, MMA, SMK, MAHAD ALY dan AKPER. Suasananya sejuk dan indah, santrinyapun ramah ramah.
saat ini sistem pembelajaran yang di laksanakan di ponpes Al Hikmah 02 masih sangat minim dalam menggunakan alat elektronik. Masih dapat di hitung dengan jari, sekolah yang sudah menggunakan elektronik dalam pembelajaran, itupun tak sepenuhnya. Kurangnya tenaga pengajar yang mengetahui masalah informasi dan komunikasipun menjadi salah satu faktor belum berjalannya sistem E-Learning dikawasan pondok pesantren Al Hikmah 02. Belum lagi fasilitas yang belum memadai, hal ini cenderung menjadi penghambat.
Sudah beberapa sekolah memiliki web, tetapi kenyataannya secara fakta (de facto) mereka belum bisa memakainya semaksimal mungkin. Web hanya sekedar menjadi ajang untuk periklanan. Sekalipun ada berita menarik itu hanya seputar guru jika gurulah yang mengelola. Ataupun seputar siswa jika hanya siswa yang mengelola.
Seperti halnya di Malhikdua, muncul Redaksi M2Net ini adalah organisasi yang khusus mengurus permasalahan web (malhikdua.sc.id), blog (malhikdua.com), email (mail.malhikdua.com) dan lain sebagainya yang berhubungan dengan jejaring sosial. Pengelolanya adalah siswa malhikdua sendiri, dengan di bantu crewchild.

4.2 E-Learning dan Blog
E-Learning dan blog adalah sesuatu yang saling berkaitan satu sama lain. Harus diakui, internet telah membuat dunia menyempit. Dunia bagaikan sebuah perkampungan di bawah satu atap peradaban yang mengglobal. Komunikasi dan interaksi bisa dilakukan lintas-waktu dan lintas-geografis. Manusia pada era digital ini benar-benar dimanjakan dalam mengakses informasi. Dunia pendidikan yang notabene menjadi sumber peradaban pun agaknya mulai melirik internet sebagai salah satu sumber dan media pembelajaran. Hal ini tidak berlebihan lantaran lewat pintu dunia maya itulah dinamika dan perkembangan informasi bisa dilihat dan dilacak.
Di wilayah kebijakan, pemerintah sudah menyediakan BSE (Buku Sekolah Elektronik). Kehadiran buku online yang bisa diunduh secara gratis itu merupakan titik awal bagi kementrian pendidikan dalam upaya mewujudkan E-Learning (pembelajaran elektronik) yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh satuan pendidikan yang relevan. Selain dapat diunduh, Depdiknas juga menyediakan link untuk membaca buku teks secara online. Ini sebuah terobosan yang layak dihargai.
Kelebihan adanya E-Learning guru dan siswa dapat dengan mudah berinteraksi. Mereka dapat bertukar pikiran, tak ada lagi rasa canggung yang di rasakan seperti halnya di kelas. Blog adalah salah satu jalur untuk menuju kesuksesan E-Learning.
Adanya E-Learning juga harus di pertimbangan matang matang, seperti:
1. SDM yang memadai.
2. Infrastruktur yang memadai.
3. Biaya.

4.3 Penerapan E-Learning di Pesantren
Setelah mengetahui penjelasan tentang E-Learning, kita tahu bahwasannya E-Learning akan dengan mudah di terapkan di pesantren. Tapi apa yang terjadi di lapangan, dari hasil survey yang disebar di seluruh institusi pendidikan di pesantren, satupun tak ada yang bisa menerapkan pembelajaran elektronik. (Angket: Terlampir, hal 28).
Beberapa sekolah malah tidak memiliki website sebagai media informasi resmi sekolah ke publik. Satu sekolah yang ditelusuri rekam jejak penerapan TIK, yakni MA Al Hikmah 2 mengaku pernah memiliki program E-Learning, tapi hanya bertahan beberapa bulan. Sekolah ini bukannya tanpa usaha merawat, mengirim wakil untuk mengikuti pelatihan di Semarang pun pernah dilakukan, tapi saat harus dilaksanakan bermacam kendala menjumpai.
Beberapa kendala yang melatarbelakangi belum diterapkannya sistem e-learning ini, yaitu mencakup:
1. Sumber Daya Manusia (SDM)
Selama ini kurangnya SDM yang mampu memberikan pelatihan ataupun pengelolaan masih sangat minim. Hampir 50 % dari angket yang kita sebar menunjukkan bahwasannya tidak adanya SDM yang menangani.
2. Biaya
Setelah menyebarkan angket, 35% instansi instansi menyatakan bahwasannya biasa pembuatan dan pengelolaannya mahal.Infrastuktur
3. Infrastruktur
Infrastruktur yang belum memadai seperti minimnya komputer, minimnya sinyal internet, dan keserba-miniman yang lain lagi mengenai infrastuktur. Ini menjadi 15% kendala dalam penerapan E-Learning.

Dari situ juga ditarik kesimpulan bahwa keengganan guru menerapkan E-Learning karena praktik penggunaan teknologi yang belum membudaya. Artinya, faktor habit manusia menjadi pengaruh, tentunya butuh waktu lama untuk mengubah suatu kebiasaan. Padahal kalau bicara soal E-Learning pada sisi penerapan akan banyak dijumpai alat-alat yang susah dijangkau, dalam arti susah digunakan, oleh praktisi sekalipun. Sebutlah Moodle, Jibas, openSIS, SISFOKOL, Open Admin for School, SchoolTool, Fedena, dan lain sebagainya. Kecanggihan yang diberikan oleh alat-alat e-learning tersebut tentu bisa membuat pengguna semakin enggan menyentuh.

4.4 Blog sebagai Solusi Alternatif Penerapan E-learning.
Dari pembahasan sebelumnya maka solusi termudah yang bisa disentuhkan ke seluruh komponen pesantren khususnya para guru adalah dengan menggalakkan program BLOG.
Apakah blog dapat digunakan untuk multimedia pembelajaran? Pertanyaan ini sering muncul mengingat kesederhanaan konsep blog itu sendiri yang sepertinya susah menandingi alat-alat E-Learning yang telah disebutkan di atas. Jawaban pertanyaan diatas cukup mudah, yakni :
1. Dalam blog dapat dimasukkan unsur-unsur media, yaitu teks, grafis, gambar, audio, bahkan video dan animasi secara terintegrasi.
2. Blog dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, ketrampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan yang belajar sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali.
Dari jawaban-jawaban di atas dapat disimpulkan bahwa blog dapat digunakan untuk multimedia pembelajaran. Memang blog yang ideal menurut definisi di atas adalah terdapat unsur teks, gambar, audio, video dan animasi secara terintegrasi. Dengan adanya unsur-unsur tersebut, maka blog dapat merangsang pikiran, perasaan, kemauan dan perhatian siswa agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Selain itu blog juga dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. Misalnya, untuk memberikan tugas-tugas kepada siswa, meng-upload materi-materi pelajaran, untuk berkomunikasi dengan siswa dan sebagainya.
Tidak hanya siswa saja yang memanfaatkan blog ini. Siswa, guru dan orang-tua dari berbagai daerah pernah memberikan komentar di blog. Setidaknya mereka pernah membaca artikel dalam blog atau download materi, tutorial dan lain sebagainya. Bisa dikatakan bahwa blog dapat dimasukkan dalam multimedia pembelajaran dengan memperhatikan unsur-unsur di atas.
Satu hal yang paling penting adalah blog sangat mudah digunakan karena mendekati kebiasaan manusia yang cenderung mengungkapkan pikiran, keluh kesah, dan lain sebagainya. Ini searti dengan asal kata blog itu sendiri, yakni web dan log, yang secara sederhana menurut penggalan kata diartikan sebagai penyimpanan isi hati dan pikiran manusia melalui media website.
4.5 Membudayakan Aktivitas blog di Kalangan Pendidik
Setelah menemukan jawaban atas permasalahan yang ada terkait e-learning, sekarang yang menjadi persoalan adalah bagaimana menjadikan blog sebagai start point media pembelajaran. Untuk mengimplementasikan hal tersebut, yang perlu dipahami adalah perkembangan dan dinamika masyarakat yang makin mengarah ke situasi global, dimana blog telah menjadi media yang diminati sebagai rumah maya untuk menampung pemikiran-pemikiran kritis dan kreatif. Blog dianggap telah menjadi media virtual yang tidak hanya sekadar dijadikan sebagai media berekpresi, tetapi juga telah menembus dimensi industri. Sudah banyak bloger di negeri ini yang sukses meraup dolar melalui blog. Meski demikian, blog tetap saja tak bisa dipisahkan fungsinya sebagai media sosial untuk berinteraksi dengan sesamanya secara maya. Terlebih sebagai edia sosial untuk berinteraksi dalam mendukung pendidikan sekolah.
Lantas, bagaimana membagi waktu antara aktivitas ngeblog dan mengajar? Dari sisi waktu, guru termasuk profesi yang cukup menguntungkan . Tugas mengajar dalam sehari hanya sekitar delapan jam. Ini artinya, masih banyak waktu luang yang tersisa, sehingga bisa dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas lain yang bermanfaat, termasuk ngeblog. Dengan kata lain, aktivitas mengajar seorang guru tidak akan terganggu oleh aktivitas ngeblog. Ada pengalaman kreatif yang tak bisa dilupakan ketika seorang guru secara serius menekuni aktivitas ngeblog. Selain bisa melakukan aksi melalui tulisan, menumbuhkan semangat berbagi dan bersilaturahmi, tulisan-tulisan yang terpublikasikan di blog bisa diterbitkan menjadi sebuah buku.
Tentu saja, tidak semua tulisan yang terpublikasikan di sebuah blog layak diterbitkan menjadi sebuah buku. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Ada dua hal penting dan mendasar bagi seorang bloger agar bisa membuat postingan kreatif dan disukai pembaca, yakni muatan isi dan bahasa. Dari sisi muatan isi, sebagaimana tulisan-tulisan di media mainstream yang lain, blog perlu menyuguhkan postingan-postingan yang cerdas, padat dan jelas.
Namun, muatan isi saja tidaklah cukup. Bloger juga perlu mempertimbangkan penggunaan bahasa yang komunikatif, sehingga pesan-pesan yang disampaikan bisa dipahami dengan mudah oleh pembaca. Hal ini penting, sebab tujuan setiap postingan di blog adalah agar bisa dibaca dan dipahami dengan mudah oleh pembaca. Di tengah arus informasi yang terus mengalir setiap hari, agaknya (hampir) tak ada waktu bagi para pemburu informasi di dunia maya untuk berlama-lama membaca sebuah postingan di blog. Kalau tidak dikemas dengan bahasa yang menarik dan komunikatif, blog akan segera ditinggalkan pembaca. Yang tidak kalah penting, judul postingan juga perlu dipertimbangkan.
Keefisienan guru juga di dapat dengan adanya blog tersebut. Mereka dapat berekspresi dengan mudah di blog tersebut. Karya karya dan ekspedisinya dapat dengan mudah di pahami siswa.

4.6 Tantangan Aktivitas blog di Kalangan Siswa
Membudayakan blog di level santri atau siswa tidaklah semudah yang di bayangkan. Mereka harus bisa membagi waktu antara pondok dan sekolah.
Siswa di tuntut untuk aktif belajar melalui blog guru. Karena di blog itulah banyak materi yang bisa di unduh oleh siswa. Sehingga siswa dapat belajar mandiri tanpa harus bertatap muka dengan guru. Selain itu, bagi siswa yang lebih suka belajar otodidak inilah media yang pas untuk mereka. Selain itu juga siswa dapat lebih eisien dalam pengerjaan atau pengumpulan tugas. Karena dengan adanya blog ini baik guru maupun siswa dapat memberikan atau mengumpulkan tugas lewat bog tersebut.
Di sisi lain, yang menjadi persoalan kemudian adalah bagaimana santri bisa ngeblog dalam lingkungan pesantren yang apa saja serba terbatas dan dibatasi. Seperti yang diuraikan oleh pembina M2Net di MA Aliyah tentang asal muasal Media Blog Malhikdua berdiri.
Diceritakan betapa sulitnya santri-santri di pesantren dalam mendapatkan akses internet. Disamping jumlah fasilitas yang tidak sebanding dengan jumlah santri, tekanan-tekanan dari pihak pengelola (kala itu) juga sering membuat ciut nyali para santri yang ingin menjelajah dunia maya. Hal ini disebabkan, adanya beberapa siswa yang sering kali menyalahgunakan penggunaan akses warnet, seperti halnya digunakan hanya untuk membuka situs jejaring sosia yang terkadang membang banyk waktu efektif siswa. Oleh karen itu, akses warnet di lingkungan pesantren terbatasi.
Langkah langkah yang harus di tempuh agar penerapan E-Learning lewat media blog ini dapat berjalan, di butuhkan :
1. Kebijakan dari atasan dalam peraturan penggunaan warnet.
2. Konsistensi siswa dalam menggunakan fasiltas warnet yaitu dengan menggunakannya sebaik mungin untuk menduung pembelajaran (mengikuti sistem E-Learning).
3. Sosialisasi mengenai pentingnya E-Learning bagi siswa. Dalam mendukung pemelajaran mereka sehingga mereka dapat aktif dan interaktif dalam mengikuti pembelajarn E-Learning itu.

4.7 Kiat-kiat Blogging Bagi Guru
Menurut wawancara dengan dengan salah satu pembina M2Net, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam membangun blog untuk pembelajaran, yakni:
1. Harus memiliki kemauan yang kuat dan minat yang tinggi dalam mengelola blog pembelajaran ini. Sebab, kamu tidak digaji dalam mengelolanya. Tetapi bila kamu memiliki kemauan yang kuat untuk belajar, kamu akan bisa membangun blog untuk pembelajaran yang bermanfaat untuk semua.
2. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Semua kesuksesan itu dimulai dari kerja keras, dan dilakukan secara bertahap. Dalam membangun blog untuk pembelajaran kamu benar-benar dituntut untuk kerja keras. Memasukkan dan menuliskan materi pembelajaran yang menarik sehingga akan banyak orang yang berkunjung ke blog itu. Selain itu lakukan pula promosi ke siswa siswi kamu.
3. Kamu harus bekerja cerdas agar blog yang kamu buat menarik hati para pengguna internet agar mau belajar diblog kamu. Cara cerdas itu adalah buat blog kamu semenarik mungkin, lalu kirimkan email ke siswa- siswi kamu yang isinya kalau kamu telah membangun blog untuk media pembelajaran. Bila blog yang kamu buat mendatangkan manfaat untuk siswa siswi kamu, yakin mereka akan menjadi pengunjung tetap blog kamu itu.
4. Karena kamu tidak dibayar dalam pengelolaan blog ini, maka kamu harus ikhlas dalam mengelolanya. Serahkan segala sesuatunya pada Tuhan Pemilik Bumi. Niatkan dalam dirimu bahwa blog yang kamu kelola itu dibangun memang dengan niat untuk berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman. Ketika niat itu ikhlas, nantikan keajaiban blog yang akan kamu temui dan lihatlah apa yang terjadi. Mengisi tulisan diblog, serasa kamu memiliki tabungan yang nanti akan tumbuh menjadi bertambah banyak. Bila kamu mengerjakan segala sesuatu dengan ikhlas karena Tuhan pemilik alam semesta, maka kamu pasti akan dituntun olehNya dan diberi kekuatan hebat untuk membangun blog pembelajaran.
5. Mengerjakan semua tugas harus sampai tuntas atau selesai. Kalau kamu sudah terbiasa mengerjakan sesuatu sampai tuntas, maka kamu akan menjadi orang yang profesional di bidangnya. Biasakan kerja sampai tuntas, dan jangan meninggalkan tanggungjawabmu di tengah-tengah proses pekerjaan. Bila kamu mempunyai keinginan membangun blog untuk pembelajaran, maka kamu harus menyelesaikan meteri-materi esensial yang dapat membantu teman-teman kamu memahami materi yang diberikan oleh guru.
6. Sungguh-sungguh memegang niat yang telah diucapkan sehingga tidak patah semangat ketika dalam perjalanan membangun blog menghadapi tantangan yang berat. Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Diperlukan komitmen yang tinggi dalam mewujudkan mimpi itu. Karena itu, komitmen kamu harus terus terjaga dalam membangun blog pembelajaran.
7. Harus tetap teguh dalam pendirian. Tidak mudah goyah ketika ada yang mencibir. Pada saat kita melakukan kebaikan, ada saja orang yang sirik, karena itu harus konsisten dalam pelaksanaannya. Berdisiplin dengan waktu dan penuhi jadwal yang telah kamu buat sendiri.
8. Terus berkreasi. Orang yang kreatif selalu memiliki kreativitas tinggi dalam membangun blog pembelajaran. Otaknya selalu menemukan hal-hal baru. Dia tidak mau blog yang dikelola merupakan hasil karya orang lain. Orang yang memiliki kreativitas yang tinggi selalu berupaya mencari sendiri ide-ide brilian yang ada dalam otaknya. Orang yang kreatif itu biasanya menghasilkan sesuatu yang unik. Karena keunikan itulah yang membuat dirinya berbeda dengan orang lain.
9. Apa yang kamu tuliskan dalam blog pembelajaran sebaiknya bersinggungan langsung dengan kehidupan nyata siswa. Dengan membuat tulisan yang kontekstual akan membuat lingkaran kita merasa terbantu dari tulisan itu. Karena itu menulislah sesuatu yang bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari. Jangan menulis sesuatu yang tidak kontekstual.
10. Blog yang dibuat harus dapat dipercaya oleh para blogger lainnya. Buat tulisan yang menarik dan bukan copy paste dari blog orang lain. Ketika blog dianggap kredibel oleh orang lain, maka akan banyak pengunjung yang akan singgah membaca tulisan-tulisan kamu. Karena itu mulailah membangun kredibilitas dalam pengelolaan blog kamu di internet.
11. Berusaha mencari teman yang dapat bekerjasama dalam membangun blog pembelajaran. Tidak ada orang yang sukses tanpa bekerjasama dengan orang lain. Oleh karena itu carilah teman yang dapat berkolaborasi dengan kamu dalam membangun blog pembelajaran. Orang-orang yang sukses biasanya bisa bekerjasama dengan orang lain.

4.8 Kiat Kiat Blogwalking Untuk Siswa
1. membagi waktu dan tenaga untuk blogwalking di blog guru.
2. menganggap bahwasannya blog sebagai sistem beajar otodidak.
3. Menganggap blog guru sebagai salah satu cara untuk menambah pengetahuan.
4. menganggap blog sebagai salah satu alat interaksi antara guru dan siswa.

BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
1. Instusi yang berada di bawah naungan PP. Al Hikmah 2 masih sangat minim dalam penggunaan teknologi informasi (e-learning) dalam mendukung sistem pendidikan.
2. Penerapan E-learning melalui blog belum bisa diterapkan dalam mendukung sistem pendidikan pesantren dikarenakan infrastruktur yang belum memadai, sumber daya manusia yang mendukung, dan biaya yang cukup besar.

5.2 SARAN
1. Setiap Instansi Instansi di Ponpes Al Hikmah 2 menyiapkan infrastruktur berupa komputer dan internet yang memadai.
2. Mengakrabkan guru pada dunia blog secara simultan dan berkelanjutan.
3. Pengelola juga giat memfasilitasi para guru untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam melakukan aktivitas nge-blog.
4. Budayakan aktivitas nge-blog di luar jam-jam mengajar di sekolah.
5. Kehadiran bloger guru bisa memberikan nilai tambah terhadap kemajuan dunia pendidikan.
6. Blog bisa menjadi media interaktif untuk mewujudkan pembelajaran elektronik yang dialogis dan demokratis sehingga kompetensi siswa bisa berkembang dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1. 2010. Mengelola Blog Untuk Pembelajaran di Sekolah, http://www.wijayalabs.com. Download, Kamis, 16 Februari 2012.

Anonim 2, 2011. http://www.situssawaliinfo.com. Download, Kamis, 16 Februari 2012.
Anonim 3, 2003, http://wikipedia.org. Download, Kamis, 16 Februari 2003

Clark, R.C. dan Mayer, R E. (2003). E-Learning and the science of instruction: Proven guidelines for consumers and designers of multimedia learning, Pfeiffer, San Francisco.

Harry B. Santoso, 2007. e-Learning: Belajar Kapan Saja, Dimana Saja, From: http://dl2. cs.ui.ac.id/harrybs/e-Learning.pdf, access, 10/4/2007.

Hujair AH. Sanaky. 2011. Media Pembelajaran, Buku Pegangan Wajib Guru dan Dosen, Kaukaba Dipantara.

Pusat Data Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2010.

Satrio, Romi. 2010. Elearning Kalamullah, R. Et.al. www. Ilmukomputer.com. download, Kamis, 16 Februari 2012.