Buah ICT dalam Sistem Pendidikan MA Al-Hikmah 2

BAB I
PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang
Di era modernisasi, ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang luar biasa dahsyatnya.Dengan dihembuskannya nalar rasionalitas, serat semangat penggalian pengetahuan yang tinggi, telah menghasilkan teknologi yang banyak membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari.Sebut saja listrik, telepon, komputer, alat transportasi semacam mobil, semua ini telah banyak membantu kehidupan manusia.Memang, dengan adanya realitas tersebut, dunia semakin mengecil, hanya dalam hitungan detik saja, seseorang dapat mengakses informasi yang berasal dari ribuan mil jaraknya, tanpa harus beranjak dari tempat duduk. Tak hanya itu, teknologi informasi khususnya dapat menentukan pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan bahkan kualitas hidup seseorang, institusi maupun sebuah bangsa. Menyebar luasnya proses produksi dan …

BAB I
PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang
Di era modernisasi, ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang luar biasa dahsyatnya.Dengan dihembuskannya nalar rasionalitas, serat semangat penggalian pengetahuan yang tinggi, telah menghasilkan teknologi yang banyak membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari.Sebut saja listrik, telepon, komputer, alat transportasi semacam mobil, semua ini telah banyak membantu kehidupan manusia.Memang, dengan adanya realitas tersebut, dunia semakin mengecil, hanya dalam hitungan detik saja, seseorang dapat mengakses informasi yang berasal dari ribuan mil jaraknya, tanpa harus beranjak dari tempat duduk. Tak hanya itu, teknologi informasi khususnya dapat menentukan pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan bahkan kualitas hidup seseorang, institusi maupun sebuah bangsa. Menyebar luasnya proses produksi dan reproduksi yang dilakukann di rumah tangga, pendidikaan jarak jauh, serta akselerasi mata uang semacam belanja dari rumah , merupakan ciri khas dan gaya hidup abad 21.
Mengingat begitu setragisnya manfaat teknologi informasi, Maka jelas bahwa kualitas pendidikan saat ini pun juga ditentukan oleh tingkat penguasaan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Sudah selayaknya dunia pendidikan menaruh perhatian secara serius dalam meguasai indikator kompetensi global masa kini, yakni penguasaan teknologi khususnya teknologi informasi.
Alangkah malang dunia pendidikan kita yang belum seluruhnya menyadari kehadiran teknologi informasi dan komunikasi dengan berbagai dampaknya ini. Kemajuan teknologi pendidkan kita masih memperihatinkan, tidak sedikit guru, siswa dan juga mahasiswa yang masih sangat miskin penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Atas dasar fakta seperti itu, maka bangsa kita, khususnya dunia pendidikan agaknya masih layak dimasukkan ke dalam kelompok yang disebut oleh Sachs dengan technologically excluded-kelompok yang belum mampu beranjak dari teknologi tradisional, bahkan belum mampu turut mengakses inovasi teknologi yang disebarkan oleh orang lain. Menurut Sachs, di luar kelompok manusia yang technologically excluded terdapat hampir separuh bangsa-bangsa di dunia ini yang tergolong technological adapter-kelompok yang mampu menguasai teknologi baru hasil inovasi, baik teknologi produksi maupun konsumsi. Hanya 15 % penduduk dunia memang yang tergolong sebagai kelompok technological innovaters-kelompok yang menguasai seluruh inovasi teknologi (J. Sachs, 2000).
Adalah system pendidikan pesantren, yang sepertinya mampu untuk memikul tugas itu.Di Negara kita ini, pesantren memang telah dianggap sebagai salah satu rumah pendidikan yang telah sukses menjalankan system pendidikannya. Rumah pendidikan yang telah sejak dulu ada di negara kita ini memang banyak memiliki kiprah dan prestasi yang gemilang, tengok bagaimana dulu para santri (sebutan bagi pelajar pesantren) turut serta dalam perjuangan perebutan kemerdekaan Indonesia, dengan gagah berani mereka berperang melawan para penjajah dengan hanya bersenjatakan alat seadanya. Namun, mereka tidak gentar sedikipun walaupun nyawalah taruhan mereka.Inilah salah satu buah dari hasil pembenihan karakter tangguh yang sepertinya hanya dapat di telurkan oleh pesantren. Tak hanya sampai disitu, pesantren yang tak lain merupakan subordinasi dari agama Islam kini telah muncul sebagai benteng terakhir umat muslim, yang senantiasa menjaga keseimbangan pendidikan moral dan akhlak. Tapi sayangnya, masyarakat kita hanya memandang pesantren sebagai lembaga pendidikan alternatif bagi mereka karena seakan tertutupnya pesantren dengan modernisasi.
Namun, telah menjadi kesepakatan bersama bahwa barang siapa yang tidak mengikuti perkembangan zaman, maka ia akan tergerus oleh zaman itu sendiri. Dan Kini, pesantren menyadari betul bahwa dengan hanya mengekedepankan kegamaan dan meninggalakn unsur keduniawian yang dalam hal ini diwakili oleh teknologi informasi dan komunikasi juga bukanlah tindakan yang tepat untuk dilakukan. Karena walau bagaimanapun juga, ukuran dari keberhasilan sebuah lembaga pendidikan adalah kemampuannya untuk dapat mengintegrasikan dirinya dalam kehidupan masyarakat yang melingkarinya.Keberhasilan ini ditunjukkan denganadanya kecocokan nilai antar lembaga bersangkutan dengan nilai yang ada di masyarakat. Lebih dari itu, lembaga pendidikan akan diminati oleh anak-anak, orang tua, dan seluruh masyarakat apabila ia mampu meenuhi kebutuhan mereka.
Pada akhirnya, pesantren pada era sekarang telah mulai berani menyentuh pemanfaatan teknologi informasi dengan menjadikannya sebagai pembantu atau bahkan cabang dari sistem pendidikannya.Dengan tetap memprioritaskan pendidikan agama serta tanpa mengganggunya, pesantren kini mulai banyak bicara dalam urusan teknologi informasi.Buahnya, santri tak hanya jago dalam urusan pengetahuan agama saja, mereka dewasa ini mulai dapat memberi warna lingkungan teknologi informasi dengan tetap berpegang teguh agama.
Maka, untuk semua alasan inilah penulis tertarik untuk mengupasnya ke dalam sebuah karya tulis ilmiah. Dengan harapan, kita dapat membuka mata kita dan menyadari betul, bahwa kini pesantren yang merupakan subordinasi dari agama Islam tidaklah hanya pandai dalam urusan agama, namun para santri khususnya dan umat Islam umumnya juga dapat berbicara lebih seputar kemajuan teknologi informasi ke depan akan dapat memberi warna lebih.

1.3 Rumusan Masalah
a. Apa manfaat Teknologi dan Informasi (TI) dalam sistem pendidikan pesantren
b. Bagaimana sikap pesantren terhadap pemanfaatan Teknologi dan Informasi (TI) dalam sistem pendidikan pesantren.
1.4 Batasan Masalah
Penelitian dibatasi pada Madrasah Aliyah Alhikmah 2, yayasan Pondok Pesantren Alhikmah 2.
1.5 Tujuan Penulisan
a. Mengetahui manfaat Teknologi dan Informasi (TI) dalam sistem pendidikan pesantren.
b. Menentukan sikap terhadap pemanfaatan Teknologi dan Informasi (TI) dalam sistem pendidikan pesantren.

1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penulisan ini adalah pesantren dapat mengetahui manfaat Teknologi dan Informasi (TI) dalam sistem pendidikan pesantren dan bagaimana sikap pesantren dalam pemanfaatan Teknologi dan Informasi (TI) dalam sistem pendidikan pesantren sehingga pesantren dapat selalu mengikuti dan meningkatkan kualitasnya dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teknologi Informasi dan komunikasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi, TIK (bahasa Inggris: Information and Communication Technologies; ICT) adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi.Teknologiinformasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan.Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media.Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20.Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21 TIK masih terus mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya (Haryanto, 2008).
KekuatanTIK(powerof ICT)telahmendorongparainsanpendidikanuntuk memanfaatkannyadalambidangpendidikan.KekuatanTIK telahmendorongterjadinya perubahandalamkurikulum,yangmeliputiperubahantujuandanisi, aktivitasbelajar, latihandanpenilaian,hasilakhirbelajar,sertanilaitambahyangpositif(Yuk,2006).
Berkaca pada pengalaman Korea Selatan.Negeri ini semula adalah negeri yang tenang dengan warganya siap menyongsong pagi dengan melihat lahan pertanian yang membentang.Negeri ini lalu mengalami kehancuran dan keterpurukan karena perang Korea pada 1950-1953. Namun, sesbagai mana kita tahu, sekarang negeri gingseng ini telah berubah dan mengejutkan dunia. Negeri yang semula hanya dikenal oleh negeri tetangganya seperti Cina, Jepang, dan Rusia, kini menjadi perhatian seluruh mata dunia, berkat pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi yang mereka introdusir belakangan ini.Organisasi kerjasama ekonomi dan pembangunan (EOCD) menganalisa, bahwa factor keberhasilan Korea selatan tersebut disebbkan, karena Negara itu berhasil menempatkan diri sebagai pemimpin dunia dan teknologi internet berkecepatan tinggi. ECD pun kemudian merekomendasikan model untuk benchmarking dalam teknologi internet berkecepatan tinggi tersebut. Tak pelak, kongres Amerika Serikat dalam metafikasi undang-undang yang berkaitan dengan strategi penguasaan Pemerintah dalam infrastruktur berbasis internet berkecepatan tinggi ini pun kemudian berdasarkan kepada keberhasilan korea. Pusat kebijakan public universitas Brown mempubikasikan analisisnya, bahwa dari 198 negara e-government, Taiwan adalah nomor terdepan, menyusul Korea yang kemudian diikuti oleh Kanada dan berikutnya Amerika Serikat (baca: sang M.lee, South Korea from the lamp of morning calm to itc hotbet,: dalam academy of management executive, 2003, vol 17 no.2) (Taufikurrahman, 2009).
2.2 Metode Pembelajaran Sekolah Di Pesantren
Dari berbagai persoalan remaja, yang paling merisaukan adalah moralitas. Berdasarkan survey yang dihimpun perusahaan kondom pada 2005 di hampir semua kota besar di Indonesia, tercatat sekitar 40 45 % remaja antara 14 24 tahun menyatakan secara terbuka mereka telah berhubungan seks pranikah (sindo, 10-5-2007). Bahkan, data BKKBN menjelaskan persoalan seks bebas berkaitan erat dengan narkobadan HIV/AIDS.Sebagian besar penderita terjadi pada remaja antara 15 -29 tahun, yang terinfeksi melalui hubungan seks tidak aman dan penggunaan narkoba jarum suntik.( Anjayana, 2011).
Seks bebas tidak terbatas pada hubungan fisik saja, tetapi hadirnya akses internet yang mudah ditengah-tengah masyarakat.Kemudian diikuti lagi teknologi telepon seluler lengkap dengan situs jejaring social (facebook) yang cukup canggih.Fasilitas tersebut memberikan layanan pergaulan tanpa batas.Penyalahgunaan internet bukan sekedar menampilkan gambar seronok lewat situs pornonya, juga menjadi media mencari kawan baru untuk melampiaskan syahwatnya.( Anjayana, 2011).
Ironis sekali, kemajuan teknologi yang begitu pesat tidak diimbangi dengan pemanfaatan secara tepat guna menambah ilmu pengetahuan.Perilaku remaja yang menyimpang ini tidak bisa dilepaskan.Tanggung jawab dalam mendidik remaja harus didukung oleh Sekolah, Orang tua, dan Lingkungan agar selaras.( Anjayana, 2011).
Kondisi diatas merupakan pekerjaan rumah bagi sekolah Islam, terutama Muhammadiyah yang memiliki ribuan sekolah di tanah air ini.Indikatornya dapat dilihat dari lulusan sekolah Muhammadiyah yang masih minim menghasilkan kader yang cerdas dan memiliki pemahaman agama yang utuh (Anjayana, 2011).
Perlu ada terobosan baru pada model pendidikan saat ini, yaitu dengan mengintegrasikan keunggulan sekolah dan pesantren.Dengan konsep pesantren, sekolah mampu memberikan quality time dan kebiasaan kreatif. Kementrian Pendidikan Nasional, khususnya Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP), mulai tahun 2010 telah meluncurkan program SMP Berbasis Pesantren (SBP). ( Anjayana, 2011).
SBP merupakan model pendidikan yang mampu mengembangkan multiple intelligence (kecerdasan majemuk), spiritual-keagamaan, kecakapan hidup, serta penguatan karakter kebangsaaan.Program ini diharapkan memberikan kontribusi positif dalam memperbaiki moral para remaja.Pilihan memadukan sistem sekolah dan pesantren ini diambil setelah melihat banyak orang tua yang belum mampu mendidik remaja secara tepat.Alih-alih, anaknya menurut kepada orang tua, malahan lari untuk mencari tempat yang nyaman dengan teman sebayanya. Bila keduanya disatukan, maka remaja akan memiliki benteng pertahanan yang kuat dan akan lahir sistem pendidikan yang komprehensif. ( Anjayana, 2011).
Belakangan ini, eksistensi pendidikan secara berlahan-lahan telah menunjukkan titik pencerahan.Meskipun kondisi bangsa belum mengalami peningkatan good goverment seperti sekarang ini tetapi pendidikan dapat berjalan sabagaimana mestinya.Anak-anak bangsa memiliki semangat untuk belajar mandiri dan diharapkan kelak nanti menjadi tokoh dan penerus pemimpin bangsa ini. Tidak hanya itu, tingkat kesadaran masyarakat mulai tergugah menyekolahkan anaknya demi masa depan mereka sendiri.Wacana menarik yang sempat menjadi bahan perbincangan oleh pakar pendidikan adalah munculnya sekolah unggulan dan eksistensi pendidikan pesantren. Sebagaimana kita lihat bahwa di beberapa kota besar telah menjamur sekolah unggulan belakangan ini. Sementara sebagian di pedesaan masih kuatnya sistem pendidikan pesantren.Dua model pendidikan tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan yang melengkapi.Paling tidak, asumsi dasar penulis menganggap bahwa ada sebuah hubungan yang sinergis antara dua model pendidikan tersebut (Mujtahid, 2010).
2.2.1 Potret Sekolah Unggul Sistem
Pendidikan di sekolah unggul menurut pakar multiple intelligence, Munif Chatib, (1) Mampu memaksimalkan kecerdasan setiap anak, sehingga anak dihargai sesuai kecerdasan masing-masing. (2)Menyesuaikan gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa, dan (3) pembentukan karakter dan pengembang diri secara utuh.. Peserta didik juga mendapatkan materi terstruktur , faktual, dan dibutuhkan dalam kehidupan, sehingga sekolah memberikan kontribusi bagi pembentukan SDM yang berkualitas. ( Anjayana, 2011).
Sekolah unggulan yang lahir belakangan, tentu berdasar pada inovasi kekinian dan sengaja dipersiapkan terhadap kebutuhan modernitas yang berkembang sangat pesat. Sebagai salah sat alternatif pendidikan kontemporer, sekolah unggulan berusaha menampilkan visi orientasi pendidikannya pada dataran realitas. Berbagai kemungkinan masa depan yang bakal terjadi, pendidikan unggulan mencoba menawarkan nilai jual , daripada jual nilai yang kehilangan realitasnya. Sekolah unggulan tentu saja mengadopsi dari beberapa sistem pendidikan.(Mujtahid, 2010).
Sampai sekarang, sekolah unggulan masih tergolong langka dan tidak semua orang dapat menyentuh model sekolah itu. Sekolah unggulan mencoba tampil beda dari yang lain. Sistem pendidikannya dikelola secara profesional dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadahi.Dari gedung sekolah sampai tempat pemondokan disediakan dengan sarana mewah.Alat-alat penunjang belajar tercukupi yang disediakan untuk anak didik.Bahkan lingkungannya pun memilih pada dataran yang benar-benar alami yang jauh dari polusi udara dan limbah kotoran (Mujtahid, 2010).
Lain dari pendidikan pesantren, sekolah unggulan menekankan kedisiplinan belajar cukup tinggi.Karena itu, siswa yang tidak naik kelas atau nilainya rendah sudah barang tentu mendapat teguran (penyadaran).Model sekolah seperti ini memang ketat dan sangat formal yang tidak dimiliki pesantren atau sekolah lainya (Mujtahid, 2010).
Model sekolah unggulan saat ini menjadi trend di tengah-tengah masyarakat.Menjamurnya model sekolah unggulan tidak lagi terdengar asing di telinga kita. Kebanyakan model sekolah tersebut terdapat kota-kota besar, seperti Jakarta, Bogor, tetapi sekarang sudah mulai merembet ke daerah-daerah tingkat II seperti yang ada di Jombang dan dibeberapa kota setingkat lainnya. (Mujtahid, 2010).
Seperti yang banyak dikemukakan oleh pakar pendidikan bahwa model sekolah unggulan merupakan terobosan baru untuk menjembatani antara dua sisi yakni kualitas ilmu-ilmu umum dan kualitas ilmu-ilmu agama.Di tengah era global yang sedang berjalan ini, dua nilai keilmuan tersebut harus dipadukan menjadi entitas yang utuh. Keilmuan umum (modern) tanpa dilandasi oleh nilai agama akan menyeret manusia kepada jurang kehancuran atau paling tidak bisa diklaim sebagai manusia sekuler. Sebaliknya nilai agama tanpa ditopang dengan nilai keilmuan umum akan tergilas oleh orang yang memiliki iptek yang canggih. Model semacam inilah yang seharusnya diterapkan oleh lembaga-lembagapendidikan yang ada (Mujtahid, 2010).
2.2.2 Model/Sistem Pesantren
Pesantren sebenarnya termasuk satuan pendidikan non formal yang paling berjasa dalam pengkaderan ulama dan tertua di Indonesia.Kehadiran pesantren yang dimaknai sebagai tempat belajar santri sekaligus terbukti sebagai benteng kekuatan yang patut diperhitungkan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Pesantren paling tidak memiliki 5 komponen dasar, yaitu Kyai (pengasuh pesantren), santri, masjid, asrama, dan literature klasik, kitab kuning. Kelima komponen itu memiliki fungsi masing-masing yang membedakannya dengan satuan pendidikan yang lain ( Anjayana, 2011).
Pesantren sebenarnya termasuk pendidikan yang paling berjasa dalam pengkaderan ulama (orang yang berilmu).Namun kemudian karena pesantren diidentikkan dengan pendidikan kaum kiyai maka prosentase peminatnya semakin berkurang.Meskipun demikian pesantren telah membawa dampak yang berarti bagi dinamika pendidikan.Pesantren sebagai pendidikan non formal tentu sistem dan model belajar mengajarnya pun masih banyak memakai cara-cara konvensional, kecuali pesantren yang sudah agak tergolong modern (Mujtahid, 2010).
Model pendidikan pesantren lebih banyak memakai cara-cara kultural dari pada cara-cara struktural.Dari perjalanannya, pesantren sedikit demi sedikit telah mengalami perubahan pada sistem manejerialnya, kecuali pesantren yang tergolong salaf. Ciri khas dari model pendidikan pesantren salaf adalah peserta didik kurang diajak terlibat secara aktif, hanya mendengar dan menirukan dan biasanya hanya menumbuhkan budaya patuh daripada proses penyadaran atau menumbuh-kembangkan daya kreativitas anak didik tersebut. Sementara ciri yang menonjol lainnya adalah kadar lamanya waktu nyantri (belajar) yang menjadi patokan kesuksesan (Mujtahid, 2010).
Namun, pesantren bukan berarti tidak mempnyai arti dalam realitas kehidupan masyarakat, justru pesantren banyak memberi andil dalam putaran pendidikan yang tergolong paling awal.Sebelum pendidikan formal muncul, pesantren terlebih dahulu menjadi miniatur belajar.Jadi pesantren merupakan cikal bakal lahirnya lembaga pendidikan. Sehingga kehadiran pesantren tidak hanya sebagai mediator proses belajar mengajar tetapi juga sebagai benteng kekuatan yang patut diperhitungkan ketika ikut mempelopori kemerdekaan bangsa ini (Mujtahid, 2010).
Sebagai lembaga pendidikan, model pesantren sebenarnya dapat diambil semangatnya yang kemudian diterapkan pada suatu lembaga umum lainnya.Semangat itu adalah terletak pada ketekunan dan keuletan.Sebab pendidikan umum lainnya hanya mampu mengasilkan lulusannya dengan reputasi ilmu-ilmu umum.Sementara ilmu agama sangat sulit didapat di sekolah umum secara memadahi.Pendidikan model pesantren boleh jadi sebagai penopang terhadap pendidikan umum yang kurang memiliki besik keagamaan itu (Mujtahid, 2010).
2.2.3 Integrasi keunggulan
Keunggulan pada masing-masing satuan pendidikan tersebut akan semakin berarti, jika keduanya diintegrasikan ke dalam satu model satuan pendidikan yang dikelola secara terpadu. Prinsip dasar SBP adalah pengintegrasian berbagai kecerdasan sebagai upaya pembentukan multiple intelegence peserta didik agar memiliki kemampuan akal (pikir), kemampuan spritual (zikir dan qalbu), dan kemampuan untuk melakukan sesuatu atas dasar keterampilan dan profesionalitas. SBP akan memfasilitasi tumbuhnya kesadaran akan pluralitas dan berkembangnya nilai-nilai multikultur yang mengedepankan toleransi (tasamuh) tolong-menolong (taawun), dan menghargai perbedaan. SBP mengintegrasikan kebenaran nash (Al-Quran dan hadis) dengan kebenaran sains (IPTEK) ( Anjayana, 2011).
Pengembangan model SBP tentu saja tidak sebagai obat mujarab atau satu-satunya alternative dalam upaya mengendalikan prilaku negatif remaja.Namun, paling tidak SBP dapat dijadikan sebagai kontribusi monumental dalam rangka pengembangan manusia handal yang memiliki intelektual quetient, spiritual quetient, dan emotional quetient serta berwatak multikultural. Kebersamaan dan dukungan semua pihak (pemerintah, masyarakat, stakeholders, user, praktisi pendidikan, akademisi dan peneliti) akan sangat menentukan program SBP bisa sukses diimplementasikan ( Anjayana, 2011).
2.2.4 Model Konvergensi
Agaknya, kita juga berpikir bahwa untuk memadukan antara model pesantren dan sekolah umum memang tidak mudah. Kendala utamanya adalah bukan terletak pada proses belajar mengajar di dalam kelas, tetapi terletak pada proses pembinaan secara intensif di luar kelas. Oleh karena itu, salah satu alternatif yang berusaha untuk memadukan dua model tersebut hanyalah model sekolah unggulan.Model pendidikan unggulan sudah menjadi kebutuhan paling urgent yang segera dapat menjawab dan memenuhi tantangan global itu (Mujtahid, 2010).
Sekolah unggulan lahir sebagai salah satu tuntutan zaman dan upaya untuk me-ngurangi kesenjangan antara mutu pendidikan agama dan mutu pendidikan umum.Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan unggulan merupakan salah satu pendidikan memiliki daya saing dengan mutu luar negeri.Manejerial sekolah unggulan tertata rapi yang tersedia segala macam kebutuhan pendidikan.Memang, pendidikan semacam inilah yang sebetulnya kita harapkan supaya produktifitas dan tersedianya sumber daya manusia (SDM) secara berlahan-lahan terwujud dengan baik (Mujtahid, 2010).
Namun model sekolah unggulan juga tidak terlepas dari kekurangan dan kelebihan.Misanya, biaya kurang terjangkau oleh kelompok masyarakat kelas menengah kebawah.Selama ini, yang mampu untuk menyekolahkan pada sekolah unggulan tergolong anaknya para pejabat dan pengusaha yang berhasil. Sementara untuk orang-orang yang penghasilannya pas-pasan tentu juga berpikir kali lipat, karena masih banyak kebutuhan pokok yang juga membutuhkan biaya. Sehingga timbul sebuah kesan bahwa sekolah unggulan hanya milik orang kaya atau paling tidak dimonopoli oleh segelintir orang elit (Mujtahid, 2010).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah PP. Alhikmah 2 Benda, Sirampog, Brebes.

3.2. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan cara mencari referensi melalui buku dan internet.

3.3. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dilakukan dengan menganalisa masalah, khususnya yang terjadi di Pesantren Alhikmah 2 yang dijadikan objek penelitian.

3.4. PenetapanTujuan

3.5. Pengumpulan Data
3.5.1 Metode Pengumpulan Data
a. Studi Pustaka
Metode pengumpulan data dengan cara mencari data dan informasi pada literatur yang terkait dengan penelitian,), seperti buku-buku, hasil penelitian, jurnal dan melalui internet.
b. Metode Observasi
Metode pengumpulan data dan informasi melalui pengamatan dan pencatatan dengan cara sistematik aktivitas dan kegiatan yang berhubungandenganpenggunaandanpemanfaatanteknologidankomunikasi di Objekpenelitian.
c. Metode Wawancara
Metode pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan tema penelitian,mencakup guru bidang TIK dansiswaspesifikasikomputer. Wawancara yang dilakukan disini bertujuan sebagai pelangkap data dan juga sebagai penguat atau penjelas dari data observasi.

3.5.2 Data Yang Dibutuhkan
a. Data Primer
Data yang diperoleh melalui pengamatan di lokasi penelitian. Data ini didapat dengan beberapa cara yaitu wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan tema penelitian, yaitu mencakup:
1. Data sekolah MA Alhikmah 2
2. Data ketrampilan/spesifikasi komputer
3. Data M2NET MA Alhikmah 2
4. Data Warung internet MA Alhikmah 2
b. Data Sekunder
Data yang merupakan data baku dari objek penelitian. Dalam penelitian ini, data sekunder yang dibutuhkan adalah:
1. Data struktur ketrampilan/spesifikasi komputer
2. Data struktur organisasi M2NET

3.6 Pengolahan Data
Semua data dan hasil studi pustaka yang telahdikumpulkan, diolah sedemikian rupa sehingga menjadi pembahasan untuk dianalisa.

3.7 Analisa hasil
Hasil dari pengolahan data kemudian dianalisa untuk kemudian ditarik suatu kesimpulan yang berhubungan dengan tema penelitian ini.

3.8 Penarikan kesimpulan
Hasil analisa data kemudian ditarik kesimpulan sebagai hasil akhir penelitian ini.

BAB IV
PEMBAHASAN

4. 1 Profil Madrasah
Madrasah Aliyah Alhikmah 2 merupakan salah satu madrasah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Al Hikmah 2.Madrasah ini terletak di Desa Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Lokasinya berada cukup jauh dari keramaian kota Bumiayu yang merupakan sentra ekonomi bagi penduduk yang bermukim di sekitar Brebes selatan. Madrasah Aliyah Alhikmah 2 memiliki sistem pendidikan yang telah mengalami sedikit modifikasi, yakni perpaduan antara kurikulum pesantren dengan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, sehingga tak ayal orang-orang banyak yang menyebut madrasah ini dengan sebutan Madrasah Aliyah Terpadu . Salah satu keistimewaan dari madrasah aliyah ini adalah adanya workshop yang lengkap dengan fasilitasnya, workshop tersebut meliputi : Komputer, Tata Busana, Pengelasan, dan Perikanan.
Madrasah Aliyah Alhikmah 2 berdiri pada tanggal 30 Oktober 1990 dengan dasar SK Departemen Agama No. WK/5.d/210/Pgm/MA/1990. Kini, Madrasah Aliyah Alhikmah 2 dikepalai oleh beliau KH. Mukhlas Hasyim, MA. dan sebagai motor penggerak ketrampilan yang dalam hal ini menanggungjawabi secara langsung segala hal yang berkaitan dengan workshop, adalah beliau Drs. Sulkhi Abdul Aziz.
Madrasah Aliyah Alhikmah 2 dalam perjalanannya berpegang teguh pada visinya Unggul dalam prestasi, kokoh beragama dan terampil dalam hidup . Sedangkan misinya, madrasah aliyah Alhikmah 2 berkonsentrasi untuk menyiapkan siswa yang bermutu, berwawasan imtak dan iptek serta siap mandiri di masyarakat melalui mutu peningkatan tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi, pengembangan kurikulu, optimalisasi fasilitas, system pelayanan yang professional, penggalian serta pengelolaan sumber dana secara maksimal dan proporsional sehingga mampu bersaing pada millennium III.
4.2 Serba-Serbi pemanfaatan IT di MA Al Hikmah 2
Di MA Alhikmah 2 ini, pemanfaatan IT sebenarnya khususnya dalam pembelajaran komputer sudah ada sejak sekitar tahun 1994. Dengan menggunakan dana swadaya yang tidak terlalu banyak, MA Alhikmah 2 telah memulai pengadaan pengembangan IT tepatnya ketika dunia dalam payung krisis moneter. Dan Akhirnya, sampai sekarang MA Alhikmah 2 telah memiliki sub-sub bagian yang khusus dalam penanganan IT semata. Di sana terdapat workshop komputer, ada pula organisasi IT yang berkutat dalam urusan website ataupun blog sekolah, dan satu lagi bahwa di MA Alhikmah 2 juga telah berdiri sebuah warung internet (warnet) pribadi yang dikelola penuh oleh sekolah.
4.2.1 Workshop Komputer Madrasah Aliyah Al Hikmah 2
Pemanfaatan IT di MA Alhikmah 2 tidak semata-mata penggunaan komputer oleh dewan guru atau bagian tata usaha dalam mengurusi administrasi, yang mana hanya terdapat satu dua komputer saja di sekolah, tepatnya di ruang kantor. Namun, pemanfaatan yang dimaksud di sini memang benar-benar pemanfataan IT yang senyata-nyatanya, di mana semua pihak sekolah terkait seperti guru ataupun siswa juga memiliki andil yang tak berbeda.Adanya workshop komputer dengan program ketrampilan/spesifikasi yang setara D1 (status terakreditasi B Pratama SK. Disnakertrans No. 014.11. 2002) menjadi bukti bahwa selain telah teruji dalam urusan agama, MA Alhikmah 2 juga memiliki potensi besar untuk menjadi sekolah pesantren dengan basis teknologi yang mumpuni.
Sekarang workshop MA Alhikmah 2 telah berkembang begitu pesatnya, inovasi-inovasi baru mulai diterapkan. Pendidikan ilmu komputer yang diaplikasikan pada program ketrampilan komputer tidak hanya berputar pada lingkaran pengoperasiannya saja, namun kemampuan-kemampuan khusus seperti Teknik Jaringan Komputer (TKJ) yang seyogyanya hanya ditemukan di sekolah-sekolah menengah kejuruan juga ditemukan di MA Alhikmah 2. Sehingga, selain mempelajari ilmu umum maupun agama yang didapatnya dari bangku kelas, para siswa juga dapat berbicara dalam urusan jaringan komputer sekalipun.Ini sangatlah menguntungkan, karena dalam satu kayuh, satu dua pulau bias dilewati.
Teknik jaringan komputer atau TKJ merupakan salah satu kemampuan khusus yang diajarkan dan diperdalami dalam program ketrampilan/spesifikasi komputer MA Alhikmah 2.Materi teknik jaringan yang disampaikan tidaklah berbeda jauh dengan materi-materi teknik jaringan komputer lainnya. Baik local area network (LAN) ataupun internet secara cukup detail dipelajari di sini. Model-model rangkaian jaringan seperti peer to peer, bus, star dan lain-lain, adalah paket materi yang memang harus dikuasai oleh peserta didik. Di lapangan, instruktur pembimbing ketrampilan/spesifikasi tidak semata-mata memberikan asupan kepada peserta didik dengan materi-materi terkait saja, namun metode leran & practice, 20% materi 80% praktik yang diterapkan oleh workshop memberikan kesempatan lebih kepada peserta didik untuk langsung mempraktikkan apa yang telah mereka dapat. Dengan begini, tingkat penguasaan peserta didik terhadap apayang telah mereka pelajari hampir mendekati prosentase 80.Artinya, ketika peserta didik diajak untuk terjun langsung ke dalam pengaplikasian teknik jaringan komputer, tidak tampak lagi kecanggungan pada diri mereka.Namun sebaliknya, karena sudah terbiasa maka mereka terlihat lebih lihai dan terampil.
Kemampuan khusus lain yang disajikan oleh workshop komputer melalui kegiatan ketrampilannya adalah Graphic Editing. Di sini, para siswa dimanjakan oleh pembelajaran langsung seputar editing gambar ataupun editing video. Jadi, mereka para siswa tak perlu lagi repot-repot kursus sana sini untuk menguasai ilmu tersebut. Dan satu hal yang cukup penting bahwa dalam pembelajaran graphic editing, para siswa bukanlah ditangani oleh instruktur yang baru mengenal edit-mengedit grafis, namun mereka secara intensif dibimbing oleh instruktur yang memang telah berpengalaman. Sehingga, dalam proses pembelajarannya, peserta didik tidak hanya diberikan materi-materi saja, namun para instruktur juga lebih banyak menerapkan sistem leran & practice, 20% materi 80% praktik seperti yang terjadi pada bagian TKJ. Dengan begini, peserta didik dapat lebih cepat menangkap dan memahami materi serta dapat secara langsung mengaplikasikannya.
Lalu cukupkah sampai disitu? Tidak, kemampuan khusus lain yang disuguhkan oleh workshop komputer MA Alhikmah 2 adalah kemampuan dalam hal utak atik hardware komputer atau orang sering mengatakannya dengan istilah keahlian teknisi komputer. Dan seperti biasa, dalam bidang ini peserta didik juga dipegang oleh ahli yang memang telah terbukti intregitasnya.Bahkan, dapat dikatakan pula bahwa ilmu teknisi yang digali di workshop MA Alhikmah 2 tidaklah kalah dengan ilmu teknisi yang juga diajarkan oleh Sekolah Menengah Kejuruan.Perakitan komputer, pengetahuan-pengetahuan terkait hardware, analisis kerusakan hardware dan lain sebagainya, semuanya diperdalam dan dipraktikkan di workshop ini.
Untuk teknis pelaksanaan program ketrampilan/spesifikasi, sekolah ini memiliki fasilitas penunjang yakni 2 buah laboratorium komputer, yang kemudian dibagi menjadi dua, pertama sebagai laboratorium khusus multimedia dan kedua sebagai laboratorium khusus windows. Di kedua laboratorium inilah proses pembelajaran dilaksanakan secara rutin dan terjadwal. Untuk metodenya, MA Alhikmah 2 hanya berpegang pada metode pembelajaran learn & practice, 20% materi 80% praktik , yang telah terbukti lebih efektif dan efisien.
Kemudian berbicara mengenai evaluasi, workshop MA Alhikmah 2 memiliki program evaluasi mandiri yang telah berjalan bertahun-tahun, yaitu program praktek kerja lapangan (PKL).Program ini hanya diperuntukkan untuk semua peserta program ketrampilan komputer kelas 2 akhir.Program ini selain dijadikan sebagai media evaluasi, juga sebagai syarat khusus bagi kelas 2 agar dapat naik ke kelas 3.Sehingga, boleh dikatakan bahwa semua siswa kelas 2 harus mengikuti program ini tanpa terkecuali.
Untuk pelaksanaan praktek kerja lapangan (PKL), MA Alhikmah 2 membuka kerja sama dengan beberapa instansi pemerintah dan swasta untuk menunjang pelaksanaan kegiatan. Instansi-instansi tersebut meliputi : Kementrian Agama RI, Departemen Tenaga Kerja Dan Transmigrasi RI, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Pendidikan Nasional RI, Departemen Perhubungan RI, Departemen Sosial RI, PLN Jakarta Selatan, PT. Telkom Jakarta Selatan, Universitas Gadjah Mada, dan lain-lain. Semua instansi yang rata-rata berlokasi dipusat kota besar sengaja dipilih oleh sekolah dengan harapan selain mendapatkan pengalaman kerja, peserta didik juga terlatih mentalnya untuk terjun ditengah hiruk pikuk gemerlapnya kota besar. Sehingga suatu saat nanti, mereka tidak lagi grogi untuk berada di atas panggung kehidupan karena dianggap telah memiliki bekal yang cukup.
Kelebihan lain dari workshop komputer MA Alhikmah 2 yang memegang peran penting dalam pengembangan dan pemanfaatan IT adalah pengadaan ujian lembaga pelatihan kerja swasta (LPKS) bekerja sama dengan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja kabupaten brebes. Di akhir, setelah menuntaskan ujian terkait, peserta didik berhak menperoleh sertifikat workshop yang dikeluarkan oleh Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja yang mana dapat digunakan untuk melamar kerja sekalipun.
Terakhir, menurut waka ketrampilan yakni bapak Sulkhi Abdul Aziz melalui wawancara yang telah dilakukan penulis, beliau menyampaikan bahwa kedepan, MA Alhikmah 2 ini tidak boleh bangga dengan semua pencapain yang ada dan kemudian jalan ditempat saja, namun harus ada inovasi lebih terkait pemanfataan ataupun pengembangan IT dalam system pendidikan sekolah. Inovasi besar yang masih direncanakan beliau terkait pemanfaatan ataupun pengembangan IT di MA Alhikmah 2 adalah hadirnya intranet atau internet jangkauan local yang dapat menjadi komponen pembantu yang sangat bermanfaat. Di intranet ini, nantinya akan dijejali perangkat-perangkat penting seperti daftar nilai, analisis penentuan KKM, jurnal pengajaran, referensi terkait materi, bank soal dan masih banyak lagi. Sehingga, semua siswa MA Alhikmah 2 dapat dengan mudah mengakses perihal-perihal yang dibutuhkan dengan sangat mudah.Dengan begitu, para siswa tidak harus mencari kesana kemari soal-soal ataupun referensi-referensi terkait materi yang sedang dipelajari karena di intranet para guru mata pelajaran telah melengkapinya dengan perangkat-perangkat terkait yang senantiasa terupdate. Dan kalau pengadaan intranet di sekolah sudah dapat terealisasi, maka intranet selanjutnya akan diinstal semua ruang kelas. Setelah itu, diharapkan sekolah dapat mengganti model pembelajaran yang lama dengan meodel pembelajaran multimedia yang lebih efektif dan efisien ungkap beliau.
4.2.2 Organisasi IT Madrasah Aliyah Alhikmah 2
Setelah melihat begitu eksisnya workshop komputer MA Alhikmah 2, sekarang penulis akan mengulas buah lain terkait dengan pengembangan dan pemanfaatan di sekolah ini. Adalah organisasi IT yang bernama M2NET atau akronim dari Malhikdua (MA Alhikmah 2) Network.Organisasi ini berdiri pertama kali pada tahun 2008 yang kemudian mengalami reformasi ulang sekitar januari 2010.Peran dari organisasi sangatlah berbeda dengan workshop komputer, jika workshop komputer berperan dalam masalah terkait pengembangan dan pemanfaatan IT terkait operasional komputer dan pernak perniknya, maka untuk M2NET sendiri memiliki lahan garapan yang hanya fokus dalam urusan terkait network atau jaringan.Jaringan yang dimaksud di sini meliputi hal-hal yang berhubungan dengan pengadaan website ataupun blog sekolah.Mulai dari pengelolaan, perencanaan program hingga penyiapan kader-kader yang mumpuni dalam jurnalistik khususnya jurnalistik website maupun blog. Untuk pengelolaannya, M2NET memang secara penuh diserahkan kepada instruktur terkait yang biasanya diambilkan dari dewan guru, jadi sekolah sama sekali tidak terlalu ikut campur dalam manajemen pengelolaannya. Sengaja sekolah memberikan opsi terbuka pada para siswa yang tentu dipandu instruktur sebebas mungkin.Dan sekolah bersedia membantu apapun yang diperlukan terkait pengembangan organisasi yang bedampak positif.
Untuk fungsi dari organisasi M2NET sendiri, ada beberapa hal yang memang penulis dapatkan dari keterangan pengelola organisasi terkait yang diperkuat dengan surat identitas organisasi, berikut diantaranya :
1. M2Net berfungsi sebagai media atau alat penyiaran segala informasi yang berkaitan dengan seluruh kegiatan sekolah beserta elemen-elemen yang terkait dengannya.
2. M2Net berfungsi sebagai Humas, Public Relation, atau sejenisnya dalam pemberian informasi ke luar Sekolah.
3. M2Net berfungsi sebagai penyangga dan/atau pengiring sekolah dalam mengikuti perkembangan teknologi.
4. M2net berfungsi sebagai alat penghubung antar elemen sosial di sekolah dan pondok pada umumnya melalui alat media teknologi dan informasi.
5. M2Net bertujuan untuk membangun masyarakat siswa, santri, dan publik pada umumnya dengan informasi yang sehat dan bermanfaat.
Perlu diketahui pula bahwa dalam masa perjalanannya, M2NET tidak hanya diperkuat oleh pihak dalam saja yang hanya meliputi guru dan siswa.Namun, organisasi ini juga memiliki relasi yang cukup tangguh di luar. Sebut saja Mas Nopi (Blogger Banyumas), Mas Pradna (Blogger Banyumas sekaligus Publisher), Mas Novi Setiarso (Blogger Surabaya), Mas Estiko (Blogger Solo) serta nama-nama lain yang cukup terkenal dalam dunia jurnalistik. Mereka, para blogger maupun publisher selain menjadi relasi M2NET juga secara tak langsung menjadi jaringan atau channel bagi organisasi ini untuk melebarkan sayapnya kedepan.Misalnya, pengalaman Mas Pradna dalam dunia jurnalistik ataupun publisher yang memang tak diragukan lagi telah memberikan sentuhan lebih pada organisasi. Berbagi pengalaman, tukar informasi, sharing dan interaksi lain yang sering dilakukan antar kedua belah pihak semakin menambah wawasan serta pengetahuan khususnya bagi M2NET untuk semakin menjadi yang lebih baik lagi di hari esok. Selain Mas pradna, contoh lain adalah adanya Mas Novi Setiarso yang memang sering memberikan informasi-informasi terupdate khususnya agenda perlombaan baik tingkat regional maupun nasional. Sehingga, meskipun berada berdomisili di sekolah swasta berbasis pesantren pun, M2NET tidak pernah ketinggalan terkait agenda-agenda terupdate terkait perlombaan ataupun seminar-seminar yang diadakan di luar sana.
Walaupun telah memiliki relasi yang mumpuni, M2NET juga sadar bahwa tidak selamanya mereka hanya akan terus menimba ilmu dari mereka saja. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pengetahuan maupun pengalaman baru terkait IT dan jurnalistik, M2NET juga tidak ketingalan untuk menggelar seminar-seminar khusus lingkup anggota organisasi dengan mengundang nara sumber-nara sumber kawakan, seperti salah satunya adalah seorang wartawan sekaligus jurnalist nasional, dan penulis buku best seller yang berjudul Napak Tilas Obama . Ialah Mas Baban Sarbana.Dari sini, semakin lengkap pula wawasan mereka untuk menjadi organisasi IT yang mandiri dan mumpuni baik mulai dari pengelolaan, perencanaan program hingga penyiapan kader-kader berkualitas.
Dan kini, setelah mengalami terpaan badai-badai besar dalam proses menuju kesuksesan. M2NET mulai menjelma menjadi sosok mandiri yang benar-benar professional dalam menjalankan tugas-tugas yang diempunya.Masing-masing telah memiliki karakter jurnalistik yang kental seperti ulet, sabar dan pantang menyerah.Walaupun dalam relitanya, mereka para anggota M2NET juga tak dapat lepas dari predikat seorang siswa sebuah madrasah. Buahnya, beragam penghargaan telah M2NET koleksi yang diantaranya :
1. Peraih nominasi terbaik pertama kategori blog sekolah se-Indonesia oleh IOSA (Indonesia Open Source Award) yang bekerjasama dengan UGICT Award 2010.
2. Peraih nominasi terbaik kedua kategori website sekolah oleh AMIKOM ICT Award.
3. Peraih nominasi terbaik pertama kategori website SLTA oleh Universitas Gunadarma yang bekerjasama dengan UGITC Award.
Namun, sederet prestasi tidaklah serta merta membuat M2NET bangga dan puas dengan apa yang telah diraihnya. Karena, ada satu impian yang masih ingin M2NET capai, apa itu? Ialah berhasilnya organisasi IT yang hanya berdomisili di MA Alhikmah 2 menelurkan generasi-generasi muda yang benar-benar memiliki bekal IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) yang mumpuni serta IMTAK(Iman dan Taqwa) yang dalam. Sehingga, ke depan akan tumbuh era modern yang seluruhnya dipimpin oleh orang-orang yang tak hanya dalam IT-nya namun juga dalam imannya.
4.2.3 Warung Internet Madrasah Aliyah Alhikmah 2
Warung internet, zaman sekarang siapa yan tidak mengenalnya?Warung yang memang lain daripada yang laininitelahmenjamurdimasyarakat dewasa ini. Orang-orang Telah Disetujui Dan Disahkan Pada tanggal 18 Februari 2012berkunjung ke warung ini bukanlah untuk makan, ataupun untuk sekedar menukmati segelas kopi hangat sambil ditemani gorengan pisang yang hangat pula, bukan. Namun, orang-orang bertandang ke warung ini hanyalah untuk dapat bersurfing atau berselancar ria ala dunia maya, bahasa kerennya internetan.
Namun sayangnya, keberadaan warung internet zaman sekarang yang telah tersebar merata dikota-kota bahkan mulai merambah hingga desa-desa kini mulai digunakan secara tidak proporsional, internet yang seharusnya menjadi wahana untuk mengakses informasi kini disalahgunakan. Memang, kita sadari bahwa keberadaan internet di era sekarang ini sudah tergolong dalam koridor keharusan, khususnya untuk menunjang update informasi bagi golongan kaum pelajar. Sehingga, mereka para kaum pelajar yang tidak tahu menahu akan internet serat pemanfaatannya khususnya, tidaklah lebih berpengetahuan dari yang sering berlalu-lalang ke dunia maya.
Karena itu, dibangunlah warung internet yang dialokasikam untuk kepentingan seluruh pihak sekolah baik dewan guru, para staf hingga para siswa. Tapi jangan salah sangka, warung yang lebih familiar dikenal dengan istilah Internet Corner di kawasan sekolah tidak serta merta sama dengan warnet-warnet yang kini tumbuh liar di lingkungan luar sana. Warnet di sekolah ini tentu sangatlah berbeda dengan warnet-warnet di luar sana, perbedaan ini tampak mencolok pada system pengelolaan warnet yang lebih menitik beratkan pada prinsip bebas terkontrol. Maksudnya adalah internet corner yang kini telah ada di MA Alhikmah 2 memang sengaja memberikan batas pada ruang gerak di dalam dunia maya, sehingga penyelewengan akses internet yang berdampak negative secara otomatis dapat diminimalisir.
Warung internet atau internet corner yang menjadi salah satu bagian paket dari pengembangan dan pemanfaatan IT di sekolah secara tegas disampaikan oleh waka ketrampilan adalah murni produksi dari keberadaan ketrampilan/spesifikasi komputer yang hanya disediakan untuk melayani para guru atau siswa dalam penggalian informasi, bukan sebagai lahan untuk mencari keuntungan seperti yang terjadi pada umumnya. Untuk itu, tarif yang dianggarkan warnet untuk melakukan akses perjam tidaklah berbeda dengan yang ada pada umumnya, bahkan bias dikatakan lebih murah.
Secara keseluruhan, fasilitas yang ada di internet corner MA Alhikmah 2 tidaklah berbeda dengan yang ada di warnet-warnet biasanya. Hanya saja, seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa perbedaan warnet ini lebih terletak pada kesadaran akan pemanfaatan internet yang lebih sehat. Kiat-kiat seperti pemasangan poster-poster atau gambar berbau ajakan untuk menggunakan internet secara proporsional telah dilakukan, selain itu pemantauan client oleh server yang dalam hal ini dipegang oleh salah satu instruktur ketrampilan terbilang ketat, salah satunya dengan menggunakan aplikasi pemantau seperti Netsupport school yang memang mengizinkan server untuk mengakses kompuiter client yang sedang digunakan. Ini bukan berarti sekolah tidak menghormati privasi seseorang, memang seperti itulah peraturan yang diterapkan. Karena sebelumnya, telah ada kesepakatan bahwa bagi siapa saja yang ingin menikmati fasilitas internet di internet corner MA Alhikmah 2, maka mereka harus mematuhi tata tertib dan peraturan yang berlaku. Selain hal-hal yang telah disebutkan, kebijakan lain yang dilakukan pihak sekolah terkait pemanfaatan internet yang proporsional dan terkendali adalah dengan memblokir website-website tertentu yang dianggap tidak dapat memberikan manfaat bagi para siswa khususnya dalam hal penggalian informasi untuk mereka.
4.3 Penyikapan terhadap Pengembangan dan Pemanfaatan IT di Madrasah Aliyah Alhikmah 2
Ada pepatah mengatakan bahwa kertas yang terkena air pasti akan basah, artinya segala sesuatu itu pasti ada akibatnya. Istilah inilah yang sepertinya pantas untuk menggambarkan seputar pengembangan dan pemanfaatan IT di MA Alhikmah 2 yang telah terjadi sejak puluhan tahun silam.Dari acuan ini, beberapa orang memiliki penyikapan yang berbeda-beda, prespektif mereka tidak dapat disamakan karena memang masing-masing memiliki pandangan sendiri-sendiri.
Namun, dari beberapa wawancara yang dilakukan penulis kepada pihak-pihak terkait yang mengenal betul akan pengembangan dan pemanfaatan IT di MA Alhikmah 2 ini, rata-rata mereka memiliki pandangan yang tidak berbeda jauh yakni setuju benar dan mendudukung sepenuhnya, serta berharap apa yang telah dicapai di masa mendatang harus lebih baik daripada yang di capai di masa sekarang.
Walaupun pengembangan dan pemanfaatan IT hanya dilakukan di sebuah sekolah swasta berbasis pesantren.Namun, sebenarnya di sinilah letak nilai kelebihannya. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, ternyata secara tidak langsung MA Alhikmah 2 dengan basis pesantrennya telah mampu menjawab tantangan era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan pesat dalam sector IT. Bukti bahwa MA Alhikmah 2 dulu menjadi revolusioner ketika mereka mampu dan memang sanggup membeli dan membuka sebuah unit ketrampilan/spesifikasi komputer meskipun saat itu orang-orang masih disibukkan dengan krisis moneter.
Kemandirian dan konsep manajemen bersih yang dianut sekolah berbasis pesntren ini juga kini mengantarkan mereka pada kemajuan yang lebih baik dan mungkin tak terduga sama sekali. Seperti yang di sampaikan oleh Bapak sulkhi selaku waka ketrampilan MA Alhikmah 2 serta motor dari semua pencapaian yang telah ada ketika diwawancarai oleh penulis, dalam sesi itu beliau mengatakan Adanya keyakinan yang kuat bahwa Kita bisa!, yang diikiuti oleh manajemen terbuka tanpa adanya pesuruh ataupun yang disuruh, membuat masing-masing bagian dapat menyampaikan unek-unek mereka tanpa batasan apapun, asalkan bermanfaat dan memang berpotensi membangun. Maka dengan begini, setiap bagain akan merasa memiliki tanggung jawab lebih atas apa yang dipegangnya. Hasilnya, ya seperti sekarang ini .
Sikap positif juga penulis peroleh dari hasil wawancara dengan salah satu siswa MA Alhikmah 2 kelas 3 yang telah lama mengenal sekolahnya, Ia mengatakan Gunakan semua fasilitas IT yang telah ada dengan sebaik-baiknya, karena semuanya adalah milik bersama, bukan milik personal. Dengan begitu, kita dapat senantiasa memetik manfaat IT yang ada di sekolah kita secara maksimal .
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan dan pengembangan IT dapat maksimalkan apabila brainware atau user dari IT itu sendiri juga maksimal, karena tidak hanya fasilitasnya saja yang maksimal, semuanya harus berisinergi dengan baik. Hasilnya, buah IT yang menjadi salah satu acuan akan keberadaan era global dapat kita genggam erat tanpa melepas pondasi-pondasi moral kita.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari semua yang telah diuraikan, dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Berpijak pada pembahasan yang telah diuraikan, maka kita dapat mengetahui contoh aplikasi pemanfaatan IT di dalam sistem pendidikan pesantren yang meliputi : Pembelajaran komputer yang di tamping oleh workshop computer, pengadaan pelatihan jurnalistik serta tulis menulis website atau blog melalui organisasi IT, serta pengkondisian jaringan internet yang sehat oleh warung internet sekolah.
2. Sikap positif yang disampaikan oleh para pihak-pihak terkait baik pelaku maupun pengamat menjadi landasan pemicu semangat bagi sekolah pesantren khususnya, untuk tidak menghentikan upaya pemenfaatan meupun pengembangan IT yang kini menjadi tantangan akan kemajuan era global.

5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, pemanfaatan maupun pengembangan IT yang fokus tertuju pada objek sekolah pesantren harus terus dikembangkan.Karena, inilah salah satu upaya yang efektif untuk membantu mengenalkan dan mengakrabkan para siswa di sekolah pesantren khususnya agar tidak buta arah tentang IT.Selain itu, upaya ini juga sangat berpotensi menelurkan generasi muda yang kuat IPTEK maupun IMTAK-nya.,

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1. 2007. Direktori Pesantren. Depag.

Haedari, Amin dkk. 2004. Panorama Pesantren dalam Cakrawala Modern. Jakarta:Diva Pustaka.

Haedari, Amin dkk. 2004. Masa Depan Pesantren. Jakarta: IRD PRESS.

Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.Jakarta: Kencana.

Mujtahid. 2010. Pendidikan Unggul Berbasis Pesantren. http://ihind182.blogspot.com/2010/05/pendidikan-unggul-berbasis-pesantren.html. , diakses tanggal 13 Februari 2012.

Murtyasa, Budi. 2008. Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Meningkatkan Fungsi Dakwah Dan Pendidikan Di Pesantren.

Fuadi, Riksa Rifqi. 2008. Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Dunia Pendidikan. http://www.scribd.com/doc/14281643/Makalah-Pemanfaatan-TI-Dalam-Dunia-Pendidikan, diakses tanggal10 Februari 2012.

Saleh, Taufikrrahman. 2009. Membangun Pendidikan Indonesia. Jakarta: Pesat Foundation.

Wibawana, Anjayana.2011.Sekolah Unggul Berbasis Pesantren.http://anjaya.guru-indonesia.net/artikel_detail-9128.html, diakses tanggal 13 Februari 2012.