Bukan Ghozob lagi, tapi Maling

Istilah Ghozob bagi santri sudah tidak asing lagi, bahkan istilah tersebut sudah di jadikan kebiasaan bagi santri semprul. Kebiasaan buruk ini lumrah terjadi dimana-mana, akan tetapi tidak ada pihak yang berhasil mencegah para santri untuk tidak berbuat kriminalitas tersebut. Barang yang sangat laris untuk di Ghozob di kalangan santri yakni Sandal.

Jika sandal dikatakan sebagai kebutuhan pokok bagi santri itu salah, karena tidak sedikit santri yang keseharianya dari bangun tidur hingga tidur lagi pergi tidak memakai sandal, istilah jawanya nyeker.

Tingkah santri yang keseharianya tidak memakai sandal setelah di ketahui ternyata akibat sandalnya sudah hilang berkali-kali sehingga santri tersebut bosan untuk membeli …

Istilah Ghozob bagi santri sudah tidak asing lagi, bahkan istilah tersebut sudah di jadikan kebiasaan bagi santri semprul. Kebiasaan buruk ini lumrah terjadi dimana-mana, akan tetapi tidak ada pihak yang berhasil mencegah para santri untuk tidak berbuat kriminalitas tersebut. Barang yang sangat laris untuk di Ghozob di kalangan santri yakni Sandal.

Jika sandal dikatakan sebagai kebutuhan pokok bagi santri itu salah, karena tidak sedikit santri yang keseharianya dari bangun tidur hingga tidur lagi pergi tidak memakai sandal, istilah jawanya nyeker.

Tingkah santri yang keseharianya tidak memakai sandal setelah di ketahui ternyata akibat sandalnya sudah hilang berkali-kali sehingga santri tersebut bosan untuk membeli sandal, tindakan tersebut lebih baik dari pada santri yang tidak mempunyai sandal tapi selalu ingin memakai sandal, sandal dari mana itu?.

Pasalnya, Bukan hanya santri saja yang sering menjadi korban Ghozob sandal, akan tetapi warga desa Benda yang bertugas sebagai pengajar di pesantren pun turut menjadi korban penghozoban sandal, tidak sedikit pula wali santri yang tengah menjenguk putra putri sandalnya hilang ketika di tinggal di depan komplek.

Penghozoban sandal di kalangan pesantren ini mempunyai ciri yang paten, yakni ada sandal yang umum sekali untuk di ghozob dan ada pula sandal yang sepertinya tidak layak untuk di ghozob. Sandal yang paling laris di ghozob yaitu sandal jepit dan sandal yang jarang di ghozob yaitu sandal yang bermodel bapak-bapak atau ke ibu-ibuan.

Sandal jepit memang sering di remehkan karena harganya yang sangat terjangkau, mudah di dapoat dan sangat pasaran di kalangan pesantren. Beberapa penghozob telah mengaku, apa alasan mereka lebih memilih menghozob sandal jepit, toh masih banyak yang lebih bagus?, karena banyaknya santri yang menggunakan sandal jepit, maka penghozob tidak harus khawatir jika pada suatu saat ia sedang memakai sandal terebut tiba-tiba sandal tersebut di aku oleh pemiliknya, seringnya penghozob akan menjawab aku pinjam dari temanku , salahnya walaupun sudah terdapat tanda yang sangat jelas pada sandal yang di ghozobnya, si penghozob tidak mau mengembalikanya.

Beberapa penghozob di pesantren, memang tidak mengahawatirkan tindakan kriminal mereka. Mereka mengaku, mereka menghozob karena mereka juga di ghozob, jadi mereka seperti tidak punya rasa salah jika mereka menghozob sandal teman lainya bahkan orang yang tidak di kenal.

Pernah pada suatu saat terjadi santri kepergok mengghozob sandal pengasuh (pak Kiyai) yang baru saja di tinggal masuk ke kantor pondok, pengasuhnya sendiri yang mempergokinya ketika pak Kiyai  tersebut menunggu di depan pintu asrama tempat dimana pak Kiyai meletakan sandal.

Tindakan kriminal tersebut lebih seringnya terjadi pada saat kegiatan-kegiatan sentral seperti di GOR, di masjid, tidak jarang juga ketika pengajian warga desa.
Namun seiring dengan berkembangnya moral nyali santri, sekarang aksi di ghozob dan menghozob tidak hanya terjadi ditempat yang ketika itu sepi, sekarang mereka juga berani menghozob di tempat yang ramai seperti di warnet, kamar dan warung makan.

Tidak heran jika banyak santri baru boyong (tidak menempat lagi di pondok), akibat sandalnya hilang empat atau lima kali dalam satu minggu, apalagi menempat di pondok pesantren al hikmah 2 yang santrinya berjumlah ribuan, maka dari itu kita harus meningkatkan keimanan kita dan mewaspadai ahli ghozob, agar kebiasaan menghozob tidak berkelanjutan pada generasi kita nanti.

Tetap waspada, Agar sandal tidak mudah di ghozob:

  1. Tulis namamu pada sandal dengan ukuran besar.
  2. Membeli sandal yang modelnya berbeda dengan yang lain/ unik.
  3. Apabila akan di taruh di dalam kamar, taruh pada lemari sendiri.
  4. Sebelum masuk ke tempat umum di simpan di tempat tersembunyi, atau tidak di masukin pada kantong plastik.
  5. Gembok satu pasang sandal anda pada ranting pohon atau bei yang berada di sekitar.

Tips yang nomor lima, jika diantara teman-teman anda ada yang tidak suka atau merasa risih pada tindakan anda tersebut sandal aja di gembok , maka akan mengakibatkan sandal anda di gunting atau di lempar di tempat yang lebih tinggi seperti di atap/ genting.