Antara Santri Telur Elang Dan Santri Telur Ayam

Alkisah, disuatu hari seorang petani menemukan telur elang di ladangnya. Sepulangnya dari ladang ia menaruh telur elang itu pada sarang induk ayamnya yang sedang mulai mengerami telur-telurnya.

Sepuluh hari kemudian menetaslah telur-telur tersebut, termasuk telur elang yang disisipkan disarang induk ayam tersebut. Itik-itik tersebut sangat lucu lincah dan menyenangkan sang petani.

Tuh lihat telur-telur itu telah menetas dan menjadi itik-itik yang lucu dan menyenangkan, katanya pada istrinya di suatu sore.

“Tapi pak,,, lihat ! ada yang tampak berbeda dari itik-itik itu, kata Ibu tani, ia tampak memperhatikan satu ekor itik yang tampak lebih besar dari yang lainya danlebihlincah.

Ia, tentu dong bu kata Pak tani menjawab keheranan Bu tani tadi, lalu ia mengingatkan “itukan bukan itik si Ayam bu, itukan anak Elang dari telur Elang yang kita sisipkan pada eraman induk ayam kita.Masa lupa? Katanya mengingatkan kembali Bu tani.

Ooh “saya lupa, benar itukan si anak Elang, kata Bu tani dengan nada gembira.

Kita lihat perkembangan si anak elang itu ya pak, kata Bu tani dengan penuh semangat untuk merawat si anak elang tersebut.

“Betul, kita lihat perkembanganya. Jawab Pak tani.

Hari berganti, pekan berulang menjadi bulan singkat cerita tentang anak elang yang menetas dierami induk ayam itu menjadi cerita yang banyak mengandung pelajaran yang diambil oleh Bu tani dan Pak tani tersebut.

Suatu hari, itik-itik itu bermain di kebun sekitar rumah Pak tani, merekan asik berlarian dan sesekali induk mereka mengalak kucing atau apapun yang akan membahayakan anak-anaknya. Mereka tampak senang karena dilindungi oleh induknya dan kandang dicarikan makanan dengan cekernya yang kekar, ia tampak sibuk mengoreh apa saja dan ketika mendapati mekanan ia memanggil anak-anaknya dengan suara khas induk ayam. “Kok-kok kok  (sini-sini, kemarilah anak-anakku) begitulah kira-kira terjemahanya.

Pada mulanya, tampak tidak ada perbedaan secara fisik pada anak elang itu, tapi berikutnya tentu ada perbedaan yang sangat jelas, ia tampak lebih besar dan bersayap lebat dan berpelatuk yang tajam.

Suatu hari, saat mereka bermain-main di suatu kebun petani tiba-tiba mereka ketakutan karena melihat bayangan dan ketika mereka melihat ke atas tampak ada seekor elang yang sedang terbang dan mengintai mereka, induk ayam pun lalu mengajak mereka lari untuk berlindung dan mereka pun berlindung dalam dekapan hangat sayap sang induk ayam.

Setelah elang yang mengintai itu terbang tinggi dan menjauh dari mereka, lalu mereka pun bermain kembali.

Lain halnya dengan si anak ELANG, ia lalu bertanya pada induk ayam yang telah mengerami dan menyayanginya selama ini.

Dialognya kira-kira demikian :

(mohon disimak dan difahami)

Anak Elang : Bunda, tadi yang terbang tinggi dan tampak gagah itu siapa ? kenapa kita bersembunyi dan takut padanya ?

Induk Ayam : Nanda, itu elang ia jahat, ia selalu memangsa kita. Katanya dengan nada bercerita penuh kekhawatiran.

Anak Elang : Tapi, ia gagah ya Bun ia tampak perkasa, aku pengen seperti Dia Bunda. Bisa kan?

Kalau aku seperti dia wah enak banget, Aku bisa terbang tinggi, tinggi sekali, jauh ke awan sana. katanya sambil memandang angkasa, dengan tatapan matanya yang penuh dengan keyakinan.

Induk Ayam : wuss jangan menghayal nak! Kita ini terlahir sebagai ayam, yah hanya ayam, kita tidak mungkin bisa terbang tinggi seperti elang itu nak. Sudahlah kamu tidak perlu berfikir macam-macam, kita ini bangsa ayam yang di takdirkan tidak bisa terbang dan menjadi mangsa elang-elang itu.

Dialog hari itu hanya sampai disitu. Anak elang tersebut terus bertanya-tanya dalam dirinya, ia berusaha mengenali dirinya, kadang iabertanya pada saudara-saudaranya yang itik-itik itu tentang perbedaan fisiknya dengan mereka, kadang ia bercermin sendiri pada air balong yang bening yang ada di sekitar rumah Pak tani. Dalam perenungan dan pergulatan batinya. Ia menemukan jawaban, bahwa ia unik, ia berbeda dengan saudara-saudara ayamnya, ia semakin yakin bahwa ia bisa terbang tinggi seperti elang yang sering ia lihat saat elang itu mengikutinya.

Ia berlari dan terus berlari lalu mengepakan sayapnya, ia naik ranting pohon untuk bertengger dan lalu terjun sambil mengepakan sayapnya, pada awalnya ia terjatuh dan terjatuh, hampir-hampir saja sayapnya patah karena tersangkut ranting, tapi ia tidak putus ia ulangi lagi, jatuh lagi lalu ia ulangi lagi, jatuh lagi, lalu ia ulangi lagi, jatuh lagi . Dan lalu mengulangi lagi dan terjatuh lagi.

Induk ayam yang melihat kenekatan anak eramanya tersebut lalu menasehatinya sekali lagi dan berkata :

Induk Ayam : Nak ! Bunda sudah bilang bahwa tidak mungkin kita bisa terbang, sudahlah terima saja nasib kita sebagai bangsa ayam yang sewaktu-waktu bisa dimangsa oleh elang itu.

Anak Elang : tidak bunda ! Sayayakin saya bisa terbang seperti dia, saya akan melihat dunia dari ketinggian sana. Dunia pasti indah bisa dilihat dari awan sana. Saya tahu bahwa hal itu tidak mudah, tapi bukankah hidup kita harus bermakna dan berubah ? bukan kan perubahan itu pada awalnya menyakitkan?Terima kasih atas sayang dan bimbinganmu bunda kata anak elang dengan tatapan penuh harap dan penuh keyakinan.

Hari-hari berikutnya, ia terus berlatih dan berlatih. Kadang ia melupakan makan dan istirahat. Hingga pada akhirnya ia bisa mengangkat badannya dan bisa terbang rendah, terus dan terus mencoba. Hingga bisa terbang tinggi, tinggi dan tinggi menggapai awan dan bisa melihat bumi (dunia) dari ketinggian awan.

Yah ia memang elang sejati walau menetas di sarang induk ayam, apalagi terus elang yang menetas dierami oleh induk elang sudah barang tentu sejak awal dia sudah mengenali dirinya dan terlatih oleh induknya yang memang raja dirgantara.

Lalu bagaimana bisa telur ayam yang dierami induk elang ?

Ia tetap akan menjadi ayam . dan dimangsa elang, ia tidak akan pernah bisa melihat dunia kecuali penuh dengan keterbatasan karena ia melihatnya hanya dari kurungan atau kandang dan dari kerendahan bukan dari ketinggian. Kecuali ia mau merubah dirinya. Dengan lebih perih dan pedih lagi yaitu merelakan diri untuk dipotong lalu digoreng dan menjadi ayam kentaki yang dihidangkan di restorant- restorant, hotel-hotel bintang lima di kota-kota besar dunia. Barulah ia punya Nama Besar dan Kemuliaan sebagai hidangan para raja dan tuan-tuan terhormat.

Inspirasi dari cerita di atas :

·Santri (telur), apakah ia santri telur ayam, atau santri (telur) elang ?

·Di sini di malhikdua ini ada para pengajar (guru-guru), para ustadz bahkan ada sosok yang kharismatik yang hidupnya penuh dengan ketinggian dan keteladanan, beliau KH.Masruri Abdul Mughni adalah sosok pribadi yang luar biasa, ia hidup penuh dengan keteladanan dan wafatnya pun memberikan keteladanan. Wafat di tanah yang di sucikan, tanah yang penuh dengan kemuliaan dan Madinatul Munawaroh, (semoga Allah mengampuniya).

·(mereka elang-elang perkasa)walau tentu tidak pas untuk mengumpamakan mereka dengan elang. Ini tentu tasybih atau perumpamaan yang tidak tepat. Tapi tidak mengapa, ini sekedar untuk memudahkan pemahaman kita untuk menggugah jiwa dan semangat kita.

·Bila anda santri telur elang maka akan menjadi elang (orang sukses) walaupun anda penuh dengan keterbatasan dan serba prihatin.

·Tapi bila anda, santri (telur) ayam, maka akan tetap menjadi ayam walaupun dibina oleh orang-orang hebat, dan anda penuh dengan bustelan.

 

DARI MALHIKDUA UNTUK INDONESIA GO !


Ust. Nurfauzan