Generasi Qurani

Rindu pada zaman keemasan

Rindu pada era peradaban

Rindu pada masa kejayaan

Rindu padakebenaran yang dibuktikan dalam ucapan dan tindakan.

Rindu pada suatu hari dari hari- hari penuh keberkahan.

Hari dimana umat ini menjadi umat terbaik, pada hari di mana kebenaran menjadi pedoman kehidupan.

Rindu semakin membuncah terhadap wajah- wajah teduh penuh kemuliaan.

Rindu terhadap bibir- bibir yang selalu berdzikir.

Rindu terhadap tangan- tangan penuh karya.

Rindu terhadap kebijaksanaan para pemimpin.

Rindu terhadap kemuliaan para haratawan yang dermawan.

Rindu terhadap para umahat yang selalu menjadi perekat keluarga- keluarga dan umat.

Rindu terhadap para Ayah yang penuh wibawa dan bertanggung jawab.

Rindu terhadap para pemuda yang santun dan berakhlak mulia.

Rindu terhadap para pemudi yang pandai menjaga kehormatan dan kemuliaan diri.

Rindu terhadap para Ulama yang menjadi panutan dalam fatwa bijak dan keteladanan sikap dan kezuhudan nya.

Rindu terhadap anak- anak yang sholeh- sholehah penyejuk hari para Orang tua nya

Rindu akan kebersamaan dan persatuan.

Hati menyatu, pikiran berpadu, tindakaan seirama, harmoni keumatan, yang dapat menggetarkan lawan- lawan dan musuh- musuh umat ini.

Ada Makkah yang penuh berkah

Ada Madinah yang bermandikan cahaya

Ada Palestina tempat Mirojnya yang mulia Rasulullah SAW

Ada Baghdad negri para pujangga, tempat perpustakaan- perpustakaan para ulama.

Andalus, Mesir bahkan daratan Afrika ada dalam genggaman para penguasa umat ini yang tidur siangnya di teras Masjid tanpa pengawalan dan penjaga.

Kholifah Abu Bakar yang gigih menegakan Hujjah kebenaran, orang yang enggan menunaikan zakat dikirim pasukan untuk menghancurkan mereka.

Ia pribadi yang sederhana, dermawan, gampang menangis, orang yang sangat peka terhadap penderitaan rakyatnya.

Umar seorasng pribadi yang keras, tegas, tapi bijaksana.

Luruskan aku dengan pedang bila kalian melihat aku menyimpang

Demikian katanya saat ia diangkat menjadi Kholifah.

Bila ada onta yang terjatuh karena jalannya yang tidak bagus, maka Umar akan bertanggung jawab” Demikian ucapan beliau yang menunjukan tanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya.

Bahkan ia rela memanggul gandum dengan pundaknya sendiri untuk rakyatnya.

Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Tholib dan para kholifah sesudahnya mereka telah mengukir sejarah dalam peradaban umat ini dengan penuh kemuliaan.

Langit dan bumi pun menurunkan dan mengeluarkan keberkahannya.

Ribuan kitab ditulis untuk menceritakan dan meriwayatkan kemuliaan- kemuliaan mereka maka tidaklah cukup.

Peradaban besar itu telah dirintis dan dibangun oleh Rasulullah SAW dan generasi awal umat ini dari sedikit jumlah mereka, tertindas dan terusir bahkan dibunuh, kini jumlah umat ini terbesar sedunia.

Umat Islam kini sangat besar jumlahnya.

Namun, mereka bagaikan buih di lautan.

Tak berdaya dihadapan para musuh- musuh nya.

Termarjinalkan dalam sebuah sendi kehidupan.

Ideologi, sosial, ekonomi, politik militer, dan lain- lainnya selalu menjadi bulan- bulanan musuh- musuhnya.

Terkoyak- koyak, tercabik- cabik, terhinakan.

Mana Abu Bakar zaman kini ?

Mana Umar era sekarang ?

Mana Usamah bin Zaid hari ini ?

Mana Kholid bin Walid sang jendral tak pernah kalah, zaman kiwari ?

Mana.. ?

Mana.. ?

Dan mana para pahlawan islam yang dahulu pernah ada ?

Adakah pelanjut perjuangan mereka ?

Adakah penerus idealisme- idealisme mereka ?

Anak- anakku !

Pejamkan matamu !

Tarik nafas panjang !

Lakukan berulang- ulang !

Tenangkan pikiran dan hatimu !

Semakin tenang !

Sangat tenang !

Berkatalah dalam batinmu ! “Akulah penerus mereka”

Lalu tanyakan pada jiwamu !

Dengan apa dan bagaimana menjadi penerus mereka ?

Jawablah !

“Dengan Qur’an”

Dengan menjadi generasi Qur’an

Hati, pikiran, lisan, sikap, dan perbuatan mencerminkan ajaran Al Qur’an

Aisyah berkata : Akhlaknya Nabi SAW adalah Al Qur’an

“Anak- anakku MAK, Emercy, MAU. Ketahuilah bahwa karakter kita harus qurani kalau kita mau terjaya dan bahagia dunia akhirat.

 

 

Dari Malhikdua untuk kejayaan umat dan Indonesia”

 

Oleh : Ust. Nur Fauzan