Makna “Sesuatu” Dibalik Tiga Besar

Andai bisa terbang, ingin sekali memeluk kalian, batin saya saat bulir bening dari bilik mata ini tak kuasa ditahan.
Haru, lemas, juga bahagia, berpadu dalam alat perasa bernama ‘hati’. Sontak saya bersyukur, bahkan diikuti riuh tepuk tangan keluarga besar Delicious -nama kelas gabungan Jurnal D 11/12- yang hari itu sedang mengadakan gathering. Tak sabar mendengar kabar mereka, saya juga memaksa call penjaga gawang tim kiriman M2Net; Haffata.

“Alhamdulillah, bunda… kita masuk nominasi 3 besar! Ini semua berkat do’a bunda”, suaranya kencang dari seberang.
Tangan ini kian lemas. Tak kuat menahan haru yang menyeruak ke sekujur tubuh. Saya bahagia, benar-benar bahagia mendengarnya. Berdebar sepanjang bangun tidur hingga detik menanti pengumuman, ternyata buncah oleh sorak bocah itu. Bahkan berhasil mengembangkan senyum yang sedari pagi terkulum.
Demikian terjadi pada saya, Rabu (27/2/13), yang tak bisa berbuat apa-apa saat my lovely children sedang berjuang. Ya, pada laga Lomba Website SLTA Se-Jawa yang dimotori UIN Malik Ibrahim Malang, 3 pejuang tangguh kiriman M2Net menggawangi Malhikdua.
Hafata -pemred M2Net-, Aziz, dan Luthfi -yang juga tercatat sebagai peserta- dikirim ke Malang guna menuntaskan perjuangan: presentasi dihadapan juri. Hal ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya Malhikdua dinyatakan lolos babak 10 besar. Sabtu besok adalah hari penentuan pemenang.
—
Nostalgia 2010
Barangkali sikap saya dinilai berlebihan, saya serahkan sepenuhnya pada Anda, kawan. Tapi memoar kemenangan Malhikdua pada lomba serupa 3 tahun lalu, saat saya masih berdiri tegak di gardu paling depan, baru terulang kambali detik ini. Wajar kiranya saya turut ‘merasa’ memikul beban pejuang M2Net yang kini sepenanggungan.

Meski tak senasib. Ya, tak senasib. Mereka kini jauh lebih beruntung: akomodasi ditanggung sekolah, pembina stand by 24 jam, dicekoki ramuan mujarab dari sang master, didukung penuh oleh para supporter yang sengaja hadir, bahkan alumni pun dengan sigap menjadi guide mereka menuju dan meninggalkan arena pertandingan. Sedang saya, 2010 lalu, sudah tinggal mengambil hadiah saja masih harus ribed dengan perijinan pondok, berangkat dengan uang saku sendiri, dan hanya segelintir alumni yang mau turun tangan.

Bukan sedang membandingkan, tapi bulu kuduk ini tetap berdiri kala satu per satu slide itu muncul tanpa diminta. Saksi perjuangan itu dapat Anda baca disini, disana, dan disitu.
Tentu pergeseran sikap welcome sekolah terhadap hal-hal semacam ini, sangat saya syukuri. Jika dulu saya harus menangis darah untuk bisa keluar pondok, kini sekolah justru dengan kesadaran penuh mengirim siswanya untuk turut berlaga di pentas karya bertaraf nasional bahkan internasional. Sebuah kemajuan yang patut diajungi jempol.

Disisi lain, open minded terhadap perkembangan IT, merupakan harta karun terbesar yang baru ditemukan. Sekarang, IT bukan lagi ancaman bagi pesantren, bukan lagi kambing hitam bagi santri, bukan lagi musuh para kyai, dalam berdakwah dan mensyiarkan ajaran-ajaran Islam. Bukankah sejatinya, IT tak lebih dari air bening. Mau merah, jadi merah. Mau putih, jadi putih. Terserah penggunanya mau memberi campuran warna apa. Pesantren, selayaknya menjaga air ini tetap bening; inilah tugas M2Net.

“Permasalahan selanjutnya, minimnya pengetahuan tentang IT oleh para penggunanya, berdampak fatalnya manfaat IT itu sendiri. “Hanya ditangan orang berilmu segala sesuatu bisa  bermanfaat”. Kalau demikian, peningkatan pemahaman masyarakat awam dan kalangan pondok pesantren tentang IT tentu perlu digalakkan, agar bukan hanya dampak negative yang didapat karena ketidaktahuan mereka dalam menggunakan, tapi manfaat IT bisa dirasakan secara keseluruhan.” -petikan artikel “Santri Katro, Dakwah KO” oleh Siti Dzarfah M.

Kini, M2Net berhasil mengubah paradigma “santri itu jumud dan katro” atau “gara-gara internet, santri bolos mengaji”, yang dulu selalu mendengung di telinga. Setidaknya, paradigma di kalangan pesantren Al Hikmah 2. Hal ini terbukti dengan dukungan penuh Malhikdua untuk mengirimkan jagoannya dalam lomba website tahun ini.

Good job, pejuang tangguh M2Net.
Kedepan, jika kemajuan ini terus ditingkatkan -setidaknya dipertahankan-, saya yakin tak akan ada lagi “Larangan Internet Masuk Pesantren”. Tak akan ada lagi santri berprestasi yang akan disiakan. Tak akan ada lagi kisah konyol di Jogja seperti ketiga kisah saya di atas. Saya juga berfikir ulang untuk membuat sekuel artikel yang berhasil menyabet Lomba Penulisan Artikel tingkat provinsi 3 tahun lalu, menjadi “No Santri Katro, No Dakwah KO“.
—
Overall, untuk pejuang tangguh M2Net, anugrah Malhikdua masuk Nominasi 3 Besar dalam Lomba Website SLTA Se-Jawa 2013, menyimpan satu kewajiban baru: bagaimana memanfaatkan IT agar terasa oleh semua kalangan.

**Damai Wardani, Ex-pemred Malhikdua 2010