Maknai Sumpah Pejuangan Pemuda Tempo Dulu dan Sekarang

 

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tentunya telinga pamuda sejagad Indonesia tidak asing lagi bukan, begitu mendengar pernyataan diatas dikumandangakan. Ya, tiga bait yang menjadi semangat perjuangan bangsa Indonesia ditengah keterpurukan kehidupan dan menjadi tonggak berdirinya para pemuda ini sudah sekian tahun silam digemborkan kepada khalayak umum, tepat pada 28 Oktober 1928, 85 tahun sudah sejarah itu tertorehkan dengan meninggalkan bekas yang membanggakan. Jln. Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat pun menjadi saksi bisu acara bersejarah itu dilangsungkan, sekaligus menjadi barang berharga karena menjadi saksi betapa tulus dan heroiknya pemuda zaman dahulu. Biasanya  kita berpikiran, bahwa mereka kekar, berpola pemikiran tangguh, siap menyerang lawan dengan dedikasi penuh untuk melindungi, mungkin benyak presepsi kita berujung realita pasti mengenai pemuda dahulu, namun yang paling penting dan harus kita catat adalah mengenai semangat juang dan rehasia mengapa pemuda zaman dahulu begitu masyhur tidak lekang oleh zaman.

Ditengah keterpurukan Indonesia dijajah oleh pemerintah Balanda dan Jepang, opsi yang paling mulia dan dekat dipikiran adalah bagaimana agar bangsa kita bisa bebas bernafas tanpa harus takut untuk menghirup udara kebebasan yang telah diciptakan tuhan. Presepsi itupun lantas mencuat menjadi tekad yang sangat baja untuk mengejar realitanya. “jika harus berperang, maka ayolah..” mungkin itu yang menjadi tolak ukur. Dikejar oleh pemandangan yang sangat menyesakan atas kepedihan yang diderita sekian banyak wanita-wanita Indonesia dengan anak-anak balitanya, para pemuda itu tergenjot untuk mengejar apa yang bisa mereka lakukan untuk membuktikan relita tekad mereka. Mungkin cita-cita para pemuda Indonesia saat itu terkesan sederhana dan belum mencakup keinginan luas, namun itulah yang Indonesia butuhkan saat itu. Hadirnya para tokoh tua yang menjadi lahan untuk ‘share’ pengalaman pun dirasa sangat membantu para pemuda dalam menentukan pola pikir dan tindakannya. Hasilnya, apa yang dilakukan para pemuda saat itu terlihat lebih terkonsep dan matang, bukan sebatas pemikiran manusia tanggung yang belum sempurna mampu memangku tanggung jawab.

Bayangkan pemuda zaman sekarang, dengan kemajuan teknologi dan pesatnya ilmu pengetahuan, membuat pola pikir dan juga permasalahan yang ada kian meluas, tuntutan untuk Negara sekarang bukan hanya sebatas bagiamana memepertahankan kemerdekaan Indonesia, numun tuntutan untuk  berjuang di banyak sector pun kian membuat rumit. Ditambah dengan jeratan banyak cobaan yang melanda, keimanan dan idealism para pemuda kita tergoyahkan. Kehilangan telinga untuk mendengarkan nasehat bijak ataupun pengalaman berharga dari para tetua membuat mereka semakin kehilangan arah. Kuantitas para pemuda yang mampu bersaing tergencat oleh mereka yang malah mirip dikatakan sebagai benalu masyarakat. Sebenarnya mereka masih harus memikirkan bagaimana membuat Indonesia merdeka.  Jika dipikir secara logis, Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Yang tambah menodai adalah ketidaktahuan kita akan dimana letak penjajahan bangsa lain yang merong-rong diri Indonesia. Ini sungguh kronis jika dikuliti. Seharusnya pemuda zaman sekarang lebih termotifasi untuk mewujudkan semangat juang dlama era baru dengan melihat banyaknya variasi permasalahan yang ada sekarang. Bahkan, kasus dan cobaan yang malanda Indonesia sekarang lebih pantas dikatakan sebagai peristiwa yang ada-ada saja, mengapa dikatakan demikian? Karena selalu saja ada hal baru yang menjadi cobaan bangsa. Inilah hal simple yag menjadi kompleks  karena kepasifan kita dalam berpikir. Sekarang, jika kita merubah sedikit saja pola pikir pemuda sehingga lebih berbobot dan siap dikatakan sebagai penerus tampuk perjuangan Indonesia, niscaya bangsa ini tidak akan kehilangan arah untuk menapaki langkahnya. Bukan  karena berbeda keadaan lantas semangat yang harusnya ada pun akan berbeda, bukan karena himpitan persoalan yang ada lantas merasa berbeda dan berkecil hati untuk berjuang lagi. Kita sama, pemuda sekarang sama, hanya berbeda karena harus bernafas dengan oksigen dan masa yang berbeda. Jadi mari maknai semangat juang kita.

 (WH)