Wawancara Eksklusif M2net Bersama Gus Mus

Benda, M2net – K.H Musthofa Bisri atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Mus, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Leteh, Rembang, merupakan salah satu tamu kehormatan dalam Haul Abah 4 (14/10). Ia memberikan tausiyah yang bukan hanya menuntun namun juga menghibur.

Di sela-sela kunjungannya yang sangat terbatas tersebut, reporter M2net berhasil melontarkan satu pertanyaan kepada salah satu sastrawan terkemuka di Indonesia ini.

Berikut pertanyaan yang reporter ajukan: “Saya kagum kepada Gus, karena selain Gus itu kyai, Gus juga sastrawan yang hebat. Bisakah Gus Mus memberikan motivasi, petunjuk ataupun nasihat agar menambah semangat kami, santri untuk terus belajar dan berkarya seperti Gus”.

Gus Mus menjawab, sesungguhnya dahulu kita dijadikan bagai batu split oleh Belanda, mereka mengkotak-kotakkan ilmu menjadi ilmu agama dan umum. Padahal dalam Islam, Kitab Ihya ‘Ulumuddin karangan Imam Ghozali menerangkan bahwa sejatinya ilmu itu dibagi 2, ilmu fardlu ‘ain (ilmu yang mempelajarinya merupakan kewajiban setiap individu) dan ilmu fardlu kifayah (ilmu yang hukum mempelajarinya wajib bagi beberapa orang dalam satu komunitas), maka tak heran jika tokoh-tokoh Muslim selain mumpuni dalam bidang agama juga berkompeten dalam bidang lain yang sekarang dianggap ilmu umum. Seperti Imam Hanafi yang selain dikenal kepiawaiannya dalam ilmu ushul, ia juga pandai dalam ilmu arsitektur. Imam Syafi’i pandai dalam antropologi puisi, Sayyidina ‘Ali Bin Abi Thalib mahir dalam bersya’ir. Bahkan Umar Bin Al-Khattab sangat mumpuni dalam menyampaikan syi’ir Irtijal (puisi improvisasi).

Begitu juga santri yang notabenenya adalah murid dari para pewaris nabi (ulama), disamping harus hebat dalam ilmu agama, santri juga harus menggali potensinya sesuai bakat masing-masing. Pondok sebagai wadah mereka, memberi mata pelajaran Balaghoh yang selain untuk memahami indahnya Al-Qur’an, juga untuk menciptakan karya sastra seperti sya’ir.

Sebenarnya ada permintaan Abah Sholah yang disampaikan oleh reporter M2net agar Gus Mus membaca salah satu puisi karyanya, namun karena waktu yang mendesak ia urung menuruti permintaan tersebut. (RIS, FA, SA)

Editor: ANJ