Hukum Ghoshob Bagi Kalangan Santri

Benda-M2net Sering dikalangan santri Melakukan Kebiasaan Ghosob Mengghoshob Baik berupa Sandal,Baju,Dll (24/10) Kebiasaan ini cenderung dilakukan karena santri tersebut Kehilangan salah satu Sandal ataupun Pakaian.Dan Usut Punya Usut Santri tersebut Mengambil Dengan cara sembunyi-sembunyi. Langsung aja yuk Kita kenalin Hukum Ghoshob Bagi kalangan santri.

Kata Ghasab berasal dari bahasa arab yang artinya mengambil sesuatu yang bukan miliknya secara aniaya (tidak baik, tidak meminta ijin terlebih dahulu), dan secara terang-terangan atau tidak sembunyi-sembunyi. Ghasab juga bisa berarti menguasai hak-hak orang lain dengan cara yang tidak benar, walalupun mempunyai niat akan mengembalikannya kembali. Hal ini bisa berarti pada sebuah kebiasaan, seperti contohnya kebiasaan meminjam sandal atau sepatu tanpa meminta ijin kepada pemiliknya terlebih dahulu. Di kalangan pesantren hal seperti ini memang seringkali terjadi, dari pada harus repot-repot mengeluarkan sandalnya sendiri terkadang para santri lebih memilih untuk memakai sandal yang sudah ada di luar dengan niatan akan dikembalikan lagi ke tempat asalnya. Kebiasaan seperti ini sebenarnya akan berujung buruk pada santri itu sendiri.

Lantas bagaimana hukum ghasab?
Sementara mazhab Syafii dan Hanbali memaknai gasab sebagai penguasaan terhadap harta orang lain secara sewenang-wenang atau secara paksa tanpa hak. Secara “terang-terangan” menunjukkan perbedaan gasab dengan mencuri. Mencuri dalam arti gasab tidak hanya barang tapi juga manfaat barangnya, termasuk di dalamnya meminta dan meminjam tanpa izin pemilik aslinya, sekalipun dikembalikan.
Sedangkan dalam fikih Ahlulbait, gasab tetap dihukumi sebagai dosa plus perbuatan salatnya sendiri tidak sah. Sedemikian ketatnya hingga jika kita salat tetapi ada sehelai benang pun yang ada ditubuh kita diperoleh dengan cara batil, maka salat pun tidak sah. Sayidina Ali as. berkata kepada Kumail, “Wahai Kumail, lihatlah di mana dan pada apa kamu salat. Jika itu didapatkan bukan dengan cara yang benar maka tidak diterima salatnya.” (Fiqh Al-Imâm Ja’far) .
Ghasab masuk dalam hukum makruh yang berat. Dikatakan berat sebab orang yang meminjam barang tersebut wajib mengembalikan barang yang ia pakai di tempat semula dan kondisinya harus dalam keadaan yang sama utuh, tanpa berkurang suatu apapun.
Bahkan, ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa orang yang melakukan ghasab tersebut dikenakan tanggungan atau harus menggantinya dengan berlipat ganda. Pendapat ini sebenarnya memang benar.

Dan wajib bagi orang yang melakukan ghasab untuk menambal kekurangan jika ada sesuatu yang terjadi pada barang yang ia pinjam tersebut.

Dan wajib bagi orang yang meng-ghasab tersebut mengganti biaya yang sepadan jika memang terjadi kerusakan atau kekurangan pada barang  yang sudah ia pinjam. Ini menurut pendapat yang shahih.
Sebagian ulama juga berpendapat bahwa orang yang melakukan ghasab maka wajib baginya dipaksa untuk mengembalikannya.
Oke Sobat Semoga Sedikit Artikel ini Bisa membantu Sobat M2net Mengurangi Tindakan Ghoshob:v Syukur-syukur Jangan yaaa.
(Dnw;)

Add Comment